bogorplus.id - Hematohidrosis, atau yang dikenal secara medis sebagai hematidrosis, merupakan kondisi kesehatan yang sangat langka di mana seseorang mengeluarkan keringat berupa darah. Meskipun terlihat mengerikan secara visual, para ahli menyatakan bahwa kondisi ini belum terbukti membahayakan jiwa penderitanya.
Penderita hematohidrosis akan mendapati darah muncul dari pori-pori kulit maupun lapisan mukosa, seperti hidung dan mulut, tanpa adanya luka fisik sebelumnya. Fenomena ini paling sering terjadi pada area wajah. Meskipun darah biasanya akan berhenti mengalir dengan sendirinya, area kulit yang terdampak mungkin mengalami pembengkakan sementara dan menyebabkan risiko dehidrasi.
Hingga saat ini, penyebab pasti hematohidrosis masih menjadi misteri di dunia medis karena terbatasnya kasus yang ditemukan. Salah satu kasus yang pernah dilaporkan terjadi pada seorang anak perempuan di India. Meski telah menjalani serangkaian pemeriksaan medis menyeluruh, tim dokter tidak menemukan kelainan organik apa pun pada tubuh pasien tersebut.
Para ahli menduga kondisi ini dipicu oleh pecahnya pembuluh darah yang mengalirkan darah ke kelenjar keringat. Secara biologi, saat seseorang menghadapi ancaman atau tekanan, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, pada penderita hematohidrosis, aktivitas pertahanan diri ini diduga memicu pecahnya pecahnya sehingga darah merembes keluar melalui kelenjar keringat.
Selain stres berat dan tekanan emosional, faktor pemicu lainnya meliputi tekanan darah tinggi (hipertensi) serta kelelahan ekstrem. Beberapa teori medis juga mengalami kondisi ini dengan purpura psikogenik atau pendarahan spontan tanpa trauma, serta fenomena keluarnya darah menstruasi dari luar rahim. Namun seluruh dugaan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Penanganan hematohidrosis difokuskan pada pengendalian faktor pemicu. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik secara intensif, mulai dari tes fungsi hati dan ginjal, USG, CT Scan, hingga endoskopi untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
Jika hasil tes menunjukkan tidak adanya kelainan fisik dan pasien terdeteksi mengalami tekanan psikologis, dokter akan menyarankan terapi pengontrol stres. Selain itu, pemberian obat-obatan tertentu seperti antidepresan, obat pembekuan darah, atau obat penurun tekanan darah tinggi dapat diberikan sesuai dengan indikasi medis pasien.

