BOGORPLUS.ID - Produsen otomotif raksasa asal Jerman, Volkswagen (VW), baru-baru ini menyuarakan kritik tajam terhadap tren global yang mendorong percepatan transisi energi melalui kebijakan pelarangan total penjualan mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Kritik ini muncul sebagai respons terhadap langkah regulasi di berbagai negara yang menetapkan batas waktu tegas untuk menghentikan penjualan mobil bensin.

Kebijakan pelarangan yang dimaksud mencakup target ambisius seperti yang ditetapkan oleh Britania Raya pada tahun 2030, Jepang pada 2035, dan Singapura pada tahun 2040 mendatang. Penetapan tenggat waktu ini dinilai oleh VW sebagai upaya mematikan pasar kendaraan konvensional secara paksa sebelum ekosistem kendaraan listrik matang sepenuhnya.

Pihak manajemen VW secara terbuka mempertanyakan urgensi dari penghapusan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) secara tiba-tiba demi mendongkrak popularitas kendaraan listrik (EV). Menurut pandangan pabrikan asal Jerman ini, konsumen seharusnya memiliki hak penuh untuk menentukan pilihan teknologi kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dewan Direksi Pemasaran dan Purna Jual VW menekankan bahwa pendekatan yang lebih persuasif dan edukatif jauh lebih efektif daripada memberlakukan pemblokiran atau pelarangan produk otomotif konvensional. Hal ini bertujuan agar adopsi mobil listrik terjadi secara alami seiring kesiapan pasar.

"Inilah mengapa saya membenci diskusi tentang larangan mobil ICE (mesin pembakaran internal) di masa depan," kritik Martin Sander selaku Dewan Direksi Pemasaran dan Purna Jual VW. Pernyataan ini disampaikan sebagai penegasan sikap perusahaan terhadap regulasi yang bersifat memaksa.

Sander menilai bahwa fokus perbincangan global saat ini telah bergeser ke arah yang kurang produktif karena terlalu menekankan pada batas akhir penjualan kendaraan konvensional yang telah teruji puluhan tahun. Fokus pada larangan dinilai kontraproduktif terhadap penerimaan publik.

"Semua orang hanya berbicara tentang larangan ICE. Bagaimana Anda meyakinkan pelanggan tentang teknologi baru jika Anda hanya berbicara tentang 'kapan mobil bensin tak boleh lagi dijual', kendaraan yang telah ada sejak beberapa dekade terakhir," tambahnya.

Ia berpendapat bahwa minat masyarakat terhadap produk elektrifikasi akan meningkat secara organik apabila hambatan operasional utama, seperti infrastruktur, dapat diselesaikan oleh seluruh pemangku kepentingan terkait. Solusi nyata harus mengatasi kekhawatiran konsumen sehari-hari.

Menurut pandangan VW, solusi konkret tersebut meliputi perluasan jaringan stasiun pengisian daya, promosi aktif mengenai keunggulan fitur mobil listrik, serta penyesuaian tarif energi agar lebih kompetitif dibandingkan biaya operasional mobil konvensional.