bogorplus.id – Sebanyak 11 penambang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden yang terjadi di tambang emas Gunung Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Pihak Kepolisian memastikan bahwa situasi di lokasi kejadian masih berbahaya. Insiden ini dilaporkan terjadi pada sore hari, Rabu (14/1/2026).

Kapolda Jabar, Irjen Rudi Setiawan, menyatakan bahwa lubang tambang masih terdapat gas karbon monoksida (CO). Tingkat konsentrasi gas ini pernah mencapai 1.200 ppm dan saat ini masih berada di sekitar 200 ppm, yang dianggap masih menimbulkan risiko bagi keselamatan personel.

“Kondisi di dalam masih berbahaya. Oleh karena itu, kami terus berhati-hati dan melakukan evakuasi secara bertahap,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).

Ia menambahkan, pencarian belum sepenuhnya selesai karena masih ada beberapa lorong dan lubang tambang yang belum bisa dijangkau karena tingginya risiko. Dalam operasi ini, tenaga gabungan dari Polri, TNI, BPBD, dan PT Aneka Tambang (ANTAM) dikerahkan secara bersinergi.

Mantan Deputi KPK ini juga menyampaikan bahwa terdapat laporan dari warga mengenai kehilangan anggota keluarga. Oleh karena itu, kemungkinan adanya korban tambahan masih diselidiki oleh petugas di lokasi.

“Autopsi belum dilakukan karena keluarga langsung memakamkan jenazah. Namun, apabila ke depan diperlukan tindakan lanjutan untuk kepentingan penyelidikan, tentu akan kami lakukan,” katanya.

Sebagai informasi, hingga Kamis (22/1/2026), sebanyak 11 penambang telah dilaporkan meninggal akibat menghirup gas beracun di kedalaman tambang.

“Saat mengetahui ada peristiwa di kawasan Gunung Pongkor, langkah utama yang kami lakukan adalah evakuasi,” ujar Irjen Rudi, Kamis (22/1/2026).

Kapolda juga memeriksa beberapa posko, mulai dari posko pengaduan hingga posko penyelamatan. Keberadaan posko ini berfungsi sebagai pusat koordinasi alam menangani insiden yang melibatkan penambangan tradisional di daerah tersebut.