BOGORPLUS.ID - Kisah penuh ketulusan dalam menunaikan ibadah haji kembali mewarnai musim haji tahun 2026, kali ini datang dari seorang lansia bernama Sania asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Nenek Sania, di usianya yang ke-72 tahun, harus menghadapi kenyataan pahit usai kembali dari Tanah Suci karena masih dibebani utang.

Dilansir dari Cahaya, Nenek Sania adalah seorang janda yang sehari-hari mencari nafkah sebagai buruh cuci dan tinggal menumpang di rumah anaknya. Ia mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji sejak tahun 2014, berkat uang setoran awal yang dikumpulkan oleh anak-anaknya.

Setelah menunggu lebih dari satu dekade, nama Nenek Sania akhirnya terpanggil untuk berangkat haji pada tahun ini. Namun, kendala biaya pelunasan membuat nenek lansia ini harus meminjam uang dari kerabat dan tetangga dengan janji akan mencicil sepulang dari Mekkah.

Informasi mengenai kondisi keuangan Nenek Sania yang masih terjerat utang pasca-haji ini kemudian sampai ke telinga Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak. Atas informasi tersebut, Dahnil mengambil langkah cepat untuk memberikan bantuan kepada jemaah tersebut.

Pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak bersama perwakilan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melakukan kunjungan langsung ke kediaman Nenek Sania di Serdang Bedagai. Kunjungan ini bertujuan untuk menyalurkan bantuan dana segar bagi pelunasan utangnya.

Bantuan dana tersebut disalurkan melalui transfer langsung ke rekening Nenek Sania, yang merupakan dukungan dari pemerintah dengan tambahan dana dari Uni Emirat Arab. Wamenhaj Dahnil memberikan amanat agar dana tersebut digunakan secara bijak untuk melunasi kewajiban dan kebutuhan hidup sehari-hari.

"Nenek bayar utangnya, harus. Kemudian digunakan untuk kebutuhannya," pesan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Nenek Sania saat kunjungan tersebut.

Fenomena jemaah yang berutang demi menunaikan rukun Islam kelima ini sering menjadi perbincangan, mengingat syarat utama haji adalah kemampuan finansial dan fisik. Wamenhaj Dahnil menyoroti aspek spiritual di balik keputusan tersebut, yang terkadang melampaui pertimbangan rasional.

"Bagi banyak orang mungkin bertanya, ngapain sampai berutang? Tapi itulah spirit keberagamaan beliau. Haji bagi Nek Sania adalah puncak penyempurnaan spiritual," ujar Dahnil Anzar Simanjuntak menanggapi fenomena tersebut.