BOGORPLUS.ID - Sebuah insiden maritim terjadi di perairan Pangandaran, Jawa Barat, di mana Kapal Tongkang Nautica 22 mengalami kecelakaan hingga kandas dan terbalik di kawasan pesisir pantai Cibenda, Kecamatan Parigi. Peristiwa ini menjadi perhatian serius otoritas setempat dan perusahaan terkait yang kini tengah berupaya melakukan proses evakuasi.
Proses penanganan insiden ini dilaporkan masih terus diupayakan hingga hari Minggu, tepatnya tanggal 21 Juni 2026, meskipun menghadapi berbagai hambatan di lapangan. Faktor utama yang memperlambat upaya penyelamatan dan pemulihan adalah kondisi alam yang tidak bersahabat.
Tongkang Nautica 22 tersebut diketahui tengah mengangkut komoditas penting, yaitu sebanyak 8.109 ton batu bara. Kapal ini berlayar membawa muatan dari Sumatra Selatan dengan tujuan akhir PLTU Cilacap sebelum akhirnya mengalami musibah di perairan Pangandaran.
Meskipun terjadi kecelakaan besar yang mengakibatkan terbaliknya badan kapal, pihak perusahaan mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, dampak langsung dari insiden tersebut adalah sebagian besar muatan batu bara tumpah ke wilayah perairan pantai di sekitarnya.
Agus Hermawan, External Relation PT Trans Logistik Perkasa, menegaskan bahwa penyebab utama musibah ini murni disebabkan oleh kekuatan alam yang tidak dapat dikendalikan. "Ini murni musibah akibat kondisi alam yang tidak bersahabat dan tidak bisa kami kendalikan. Faktor cuaca sejauh ini menjadi kendala utama," kata Agus Hermawan.
Saat ini, prioritas utama perusahaan adalah melakukan pembersihan awal terhadap batu bara yang masih bisa dijangkau secara manual di area pesisir. Langkah ini dilakukan sambil merumuskan strategi mitigasi yang lebih komprehensif untuk menangani batu bara yang sudah terlanjur masuk ke dalam air laut.
"Upaya kami sekarang adalah membersihkan batu bara yang bisa diambil secara manual terlebih dahulu, sembari melakukan mitigasi untuk penanggulangan batu bara yang sudah masuk ke dalam air," tambah Agus Hermawan mengenai langkah penanganan lingkungan yang sedang berjalan.
Penanganan dampak lingkungan ini melibatkan kerja sama lintas instansi, termasuk Kepolisian, TNI AL, TNI AD, KSOP, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup. Bupati setempat juga dilaporkan memantau langsung proses penanganan di lokasi kejadian.
Pihak kementerian terkait telah mengambil langkah awal untuk menilai kerusakan ekologis dengan melakukan pengecekan sampel air dan biota di perairan tersebut. Agus Hermawan menyatakan mereka menunggu arahan lebih lanjut dari dinas terkait mengenai hasil temuan tersebut.






.png)