BOGORPLUS.ID - Di tengah tantangan akses listrik di daerah terpencil, seorang lansia bernama Abah Sarnuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berhasil mencapai kemandirian energi. Pria tangguh ini telah menikmati pasokan listrik gratis selama kurang lebih 19 tahun berkat inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) rakitan sederhana.

Lokasi kediaman Abah Sarnuh berada di Kecamatan Caringin, dan akses menuju rumah panggung kayunya terbilang ekstrem. Untuk mencapainya, seseorang harus berjalan kaki menanjak melalui jalur berbatu selama hampir satu jam dari area wisata Villa Kaca Pasir Datar.

Kebutuhan akan listrik mandiri ini muncul pada tahun 2007 ketika listrik komersial PLN mulai menjangkau wilayah permukiman di bawah bukit. Keluarga Abah Sarnuh sempat mendapat tawaran untuk menyambung listrik tersebut.

"Tahun 2007 itu ada tawaran pasang lampu (listrik PLN). Bayarnya Rp 600 ribu, itu dulu," kenang Abah Sarnuh saat berbincang dengan awak media pada Senin (22/6/2026).

Namun, biaya penyambungan menjadi kendala besar karena jarak rumahnya yang terisolasi membutuhkan kabel sepanjang 3.200 meter atau sekitar 32 rol. Total biaya penarikan kabel tersebut diperkirakan mencapai Rp 11,2 juta, angka yang sangat memberatkan bagi seorang petani.

"Memang diizinkan kalau sejauh ini dari PLN? Kan tidak diizinkan kalau jauh-jauh kayak gini. Harus beli 32 rol kabel, berarti 3.200 meter," keluhnya.

Mengingat biaya besar dan potensi risiko pencurian kabel di hutan, Abah Sarnuh mencari alternatif lain. Ia terinspirasi dari kisah Pak Guru Darmaji di Desa Cikahuripan yang pernah merakit listrik menggunakan dinamo.

Berbekal modal sekitar Rp 3,2 juta, ia membeli dinamo, kabel secukupnya, dan kayu di Kota Sukabumi. Melalui proses belajar mandiri atau autodidak, Abah Sarnuh sukses menciptakan pembangkit listrik tenaga air mininya sendiri.

Pada masa awal beroperasi, PLTA mini buatan Abah Sarnuh ini diperkirakan mampu memberikan penerangan stabil untuk sekitar 10 rumah warga dengan total sekitar 70 titik lampu.