BOGORPLUS.ID - Aktivitas seismik kembali terjadi di wilayah perbatasan Indonesia dan Filipina, ditandai dengan gempa bumi bermagnitudo 5,1 yang mengguncang Laut Sulawesi pada Selasa (9/6/2026) pukul 13.15 WIB. Kejadian ini merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan yang dipicu oleh gempa utama berkekuatan M7,8 yang melanda Filipina sehari sebelumnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera merilis data mengenai lokasi pasti guncangan susulan tersebut. Titik koordinat gempa tercatat berada pada 5,43 derajat Lintang Utara dan 125,21 derajat Bujur Timur, berjarak sekitar 204 kilometer dari arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe.

Kedalaman hiposenter gempa ini tergolong dangkal, yaitu mencapai 24 kilometer di bawah permukaan laut. Kedalaman yang relatif dangkal ini menjadi salah satu faktor penting dalam analisis karakteristik gempa yang terjadi di zona subduksi aktif tersebut.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa M5,1 ini secara langsung terkait dengan aktivitas tektonik besar yang terjadi sebelumnya di Filipina. "Gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempabumi M7,7 di Mindanao, Filipina pada tanggal 8 Juni 2026 pukul 06.37.42 WIB," kata Wijayanto pada Selasa (9/6/2026).

Lebih lanjut, Wijayanto menguraikan penyebab mekanisme gempa berdasarkan analisis sumbernya. "Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip)," jelas Wijayanto.

Guncangan gempa susulan ini dirasakan oleh masyarakat dengan intensitas bervariasi di beberapa wilayah terdekat. Berdasarkan pemetaan oleh BMKG, intensitas III MMI dirasakan di Kepulauan Marore dan Kepulauan Sangihe.

Sementara itu, wilayah lain seperti Kendahe di Kepulauan Sangihe serta Miangas di Kepulauan Talaud mengalami guncangan dengan intensitas yang lebih rendah, yakni II hingga III MMI. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan struktural yang diakibatkan oleh gempa susulan M5,1 ini.

Pihak BMKG juga menegaskan bahwa gempa kali ini tidak menimbulkan potensi gelombang tsunami, berdasarkan hasil pemodelan yang telah dilakukan. "Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Wijayanto.

BMKG juga terus memantau perkembangan aktivitas seismik di Filipina, mencatat adanya penambahan aktivitas susulan. Hingga pukul 08.00 WIB, tercatat sudah terjadi 130 kali gempa susulan di wilayah Filipina, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,7.