BOGORPLUS.ID - Sebuah guncangan kuat bermagnitudo 6,7 mengguncang wilayah Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada hari Selasa, 16 Juni 2026, sekitar pukul 11.27 Wita. Kejadian ini dilaporkan mengakibatkan satu orang meninggal dunia di Kabupaten Sigi serta menyebabkan puluhan warga lainnya mengalami luka-luka.

Pusat gempa diketahui berada di darat, sekitar 42 kilometer tenggara Palu, dengan kedalaman hiposenter mencapai 10 kilometer. Guncangan hebat ini memicu kepanikan luas di berbagai wilayah, bahkan memaksa evakuasi pasien di Rumah Sakit Samaritan Palu demi keselamatan bersama.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana ini berdampak pada 110 kepala keluarga atau total 312 jiwa. Dari jumlah tersebut, tercatat 25 orang mengalami luka ringan dan 13 orang lainnya mengalami luka berat akibat getaran yang kuat.

Dampak kerusakan material cukup signifikan mencakup sedikitnya 67 unit rumah warga, enam fasilitas ibadah, dua jembatan, serta beberapa fasilitas umum dan perkantoran. Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan kerusakan paling signifikan, sementara di Palu dilaporkan terjadi keretakan pada struktur Jembatan III.

Salah satu warga Kecamatan Tatanga, Sulistio, menceritakan momen mencekam saat gempa terjadi ketika ia sedang beristirahat di dalam rumahnya. "Tadi sementara duduk duduk, tiba-tiba seng bergetar. Sekitar 10 detik begitu kayaknya (durasi getaran gempa). Gempanya kuat sekali," ujar Sulistio, warga Kecamatan Tatanga.

Akibat trauma mendalam, banyak warga yang memilih untuk tidak segera kembali ke dalam rumah meskipun bangunan mereka tidak mengalami kerusakan fisik. "Masih belum berani masuk di dalam rumah. Karena trauma juga. Kuat sekali," tambah Sulistio, warga Kecamatan Tatanga.

Kondisi serupa terlihat di fasilitas kesehatan, di mana para pasien harus dievakuasi ke area terbuka demi mengantisipasi potensi gempa susulan. "Petugas RS Samaritan tadi meminta seluruh pasien untuk tidak panik dan mencari tempat aman di luar gedung rumah sakit," kata Salam, warga yang berada di RS Samaritan.

Kekhawatiran berlanjut hingga malam hari, mendorong banyak keluarga untuk memilih tidur di luar bangunan yang dianggap lebih aman. "Masih takut masuk rumah. Tadi siang gempanya kuat. Siapa tahu masih ada susulan lagi, lebih baik kita tidur di luar dulu," ucap Fatir, warga Kecamatan Tatanga.

Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menunjukkan pemahaman mendalam terhadap reaksi warga yang masih dihantui tragedi besar tahun 2018. "Memang ada beberapa warga kita yang masih belum berani kembali masuk dalam rumah dan memanfaatkan ruang-ruang terbuka. Kita bisa memahami tersebut karena kita pernah menghadapi kondisi ini di 2018. Jadi traumanya tentunya masih sangat melekat," kata Hadianto Rasyid, Wali Kota Palu.