BOGORPLUS.ID - Fenomena penutupan sejumlah jaringan dealer yang terafiliasi dengan merek otomotif Jepang mulai menjadi sorotan publik di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. PT BYD Motor Indonesia mengkaji fenomena ini sebagai konsekuensi alami dari pergeseran industri otomotif global menuju era elektrifikasi.
Langkah strategis yang diambil oleh produsen kendaraan listrik asal Tiongkok ini adalah membangun jaringan penjualan mereka secara mandiri mulai dari awal. BYD memilih strategi ground zero daripada mengakuisisi atau mengambil alih fasilitas dealer konvensional yang telah menghentikan operasionalnya.
Luther Panjaitan, selaku Head of Marketing & PR PT BYD Motor Indonesia, mengungkapkan bahwa sebagian besar infrastruktur penjualan mereka saat ini dibangun dari nol. "Pada saat ini situasi yang ada di BYD, semuanya dibangun dari ground zero, 90 persenan lebih," kata Luther Panjaitan, Head of Marketing & PR PT BYD Motor Indonesia di Jakarta Pusat.
Manajemen BYD menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan terjadinya penurunan pasar bagi para pemain lama di industri otomotif nasional. Mereka memandang transisi energi ini sebagai sebuah keharusan yang harus dihadapi oleh semua pelaku bisnis.
Lebih lanjut, Luther Panjaitan menekankan pentingnya adaptasi terhadap tren global ini demi keberlanjutan bisnis ritel otomotif di masa depan. "Kita juga tidak mau sebenarnya industrinya drop. Tapi kita harus tahu bersama, transisi elektrifikasi itu keniscayaan, sudah menjadi fenomena di global, kita sebagai pelaku bisnis sebaiknya mulai melihat adanya fenomena ini, sehingga bisa ada sustainability di bisnis retail," tambah Luther Panjaitan, Head of Marketing & PR PT BYD Motor Indonesia.
Beberapa kasus penutupan dealer telah dikonfirmasi, termasuk Asco Daihatsu Bekasi yang mengumumkan penghentian operasional per 1 Juni 2026 melalui media sosial mereka. Selain itu, satu jaringan dealer Honda Prospect Motor (HPM) di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, juga dilaporkan telah menghentikan layanannya.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyatakan bahwa penutupan di Pulau Jawa merupakan bagian dari strategi ekspansi independen ke wilayah lain agar pasar tidak lagi terlalu terpusat di Jawa. "Kita hear informasi itu, ini masalah bisnis. Detailnya saya nggak tahu, intinya mereka punya pilihan," ujar Kukuh Kumara, Sekretaris Umum (Sekum) Gaikindo pada Kamis (16/4).
Kukuh Kumara menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi di luar Jawa membuka peluang besar bagi peningkatan kepemilikan kendaraan, sehingga dealer baru banyak bermunculan di sana. "Tapi perlu dilihat, yang selalu menjadi berita kan penutupan dealer, informasi yang kami terima banyak dealer baru yang buka, tapi bukan di Pulau Jawa. Kenapa ada yang tutup? Itu pilihan bisnis dan bersifat independen," tambah Kukuh Kumara, Sekretaris Umum (Sekum) Gaikindo.
Menurut pandangan Gaikindo, kapasitas pelayanan dealer di Pulau Jawa sudah dianggap memadai, mengingat tingkat okupansi layanan saat ini masih berada di kisaran 60 hingga 70 persen. "Jumlah dealer di sini sudah memadai untuk melayani customer yang ada. Okupasi reach-nya itu masih 60-70 persen, kalau sampai 90-100 persen ya perlu ditambah," tutur Kukuh Kumara, Sekretaris Umum (Sekum) Gaikindo.






.png)