BOGORPLUS.ID - Ancaman kekeringan yang dipicu oleh fenomena El Nino telah menimbulkan keresahan serius di kalangan petani di Kabupaten Bandung. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi keputusan petani untuk memulai musim tanam, yang pada gilirannya berdampak pada rendahnya serapan pupuk subsidi hingga pertengahan tahun 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania, mengungkapkan bahwa realisasi penyerapan pupuk bersubsidi di wilayahnya masih berada di angka yang rendah. Ia memaparkan bahwa hingga Mei 2026, penyerapan baru mencapai sekitar 30 persen dari total alokasi yang telah disediakan oleh pemerintah daerah.
"Sampai dengan bulan Mei, itu alokasi kita baru tercapai rata-rata di angka 30 persen serapannya," ujar Ina saat ditemui di Soreang pada hari Kamis, 11 Juni 2026.
Panduan Waktu Salat Wajib di Surabaya untuk Jumat, 12 Juni 2026, Lengkap dengan Tuntunan Niat
Faktor utama yang menyebabkan rendahnya penebusan pupuk ini adalah kekhawatiran mendalam petani terkait ketersediaan pasokan air akibat kemarau panjang yang diprediksi terjadi. Selain itu, sebagian petani juga mulai memanfaatkan pupuk hasil produksi mandiri mereka.
Ina juga menyinggung persepsi negatif masyarakat terhadap kondisi cuaca ekstrem yang terjadi. "Kemudian juga mungkin dengan adanya istilah Godzilla El Nino jadi kesannya tuh apa ya, serem gitu loh. Jadi mereka tuh mau tanam, misalnya kalau sayuran kan tanam enggak enggak terikat musim kan. Kayak misalnya mau tanam apa, pakcoy atau apa, kan bisa kapan aja, karena dia kan umurnya hanya 40 hari," katanya.
Meskipun serapan saat ini masih rendah, pihak dinas pertanian optimis bahwa angka tersebut akan mengalami peningkatan signifikan pada semester kedua tahun ini. Peningkatan ini diperkirakan terjadi seiring dengan dimulainya musim tanam berikutnya dan perkiraan turunnya curah hujan.
"Biasanya puncak pupuk itu ada di musim tanam kedua, yaitu di bulan September-Oktober. Biasanya itu kan lagi pas hujan turun, petani lagi semangat karena mereka sudah lama tidak beraktivitas, misalnya gitu, mereka akan lebih beralih dengan pupuk subsidi," jelas Ina mengenai proyeksi lonjakan penyerapan pupuk.
Pemerintah telah berupaya memberikan stimulus tambahan dengan menurunkan harga pupuk hingga 20 persen, yang diharapkan dapat mendorong petani untuk tetap beraktivitas saat menunggu momentum cuaca yang ideal. Kebijakan ini memberikan fleksibilitas kepada petani untuk melakukan penebusan kapan saja selama tidak melebihi kuota mereka.
Ina menegaskan bahwa penyaluran pupuk subsidi dilakukan dengan sangat ketat dan terintegrasi melalui sistem informasi yang berlaku. "Yang terdaftar nanti harus lihatnya di data Simluhtan ya, di data Simluhtan kan. Iya, karena kalau kita yang untuk pupuk bersubsidi itu biasanya kita akan berhitungnya dari alokasi. Alokasi per tahun, alokasi per bulan, ya," ungkap Ina.






.png)