BOGORPLUS.ID - Kekhawatiran melanda warganet setelah sebuah unggahan di media sosial Threads mengaitkan gempa Magnitudo 6,7 di Palu dengan potensi gempa besar di Bojonegoro, Jawa Timur. Akun pengguna tersebut menyebutkan bahwa warga di beberapa wilayah, termasuk Bojonegoro, perlu waspada terhadap potensi gempa sesar darat berkekuatan besar.

Unggahan tersebut, yang dikutip dari Detikcom, bahkan mengklaim bahwa tekanan lempeng bumi telah mencapai ambang batas tertentu, mengindikasikan kemungkinan terjadinya gempa skala 6 hingga 8. Ketika ditanya mengenai dampaknya ke Jawa Timur, akun tersebut secara singkat menyebutkan "Sesar Kendeng" sebagai sumber potensi ancaman.

Menanggapi kegaduhan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama pakar geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memberikan klarifikasi. Keduanya sepakat bahwa prediksi gempa secara pasti hingga saat ini masih mustahil dilakukan oleh ilmu pengetahuan.

Pakar Geologi ITS, Dr Ir Amien Widodo, menjelaskan bahwa lokasi gempa Palu sangat jauh dari Jawa dan arah pergerakan sesarnya tidak searah atau terhubung langsung dengan sesar di Jawa. "Posisi (Palu) itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung," papar Amien Widodo.

Amien Widodo juga meragukan validitas data tekanan lempeng bumi yang disebutkan dalam unggahan viral tersebut, karena tidak jelasnya latar belakang ilmiah dari pembuat klaim. "Saya enggak tahu dia bisa billing tekanannya sekian-sekian tadi itu dari mana. Tapi saya tadi mencari, melacak ini orang ini siapa sih, enggak jelas tadi (backgroundnya)," tegasnya. Ia menambahkan bahwa gempa di Palu terjadi di zona Sesar Palu-Koro yang bergerak menjauhi Jawa, yaitu menuju arah barat laut.

Mengenai potensi di Jawa Timur, Amien Widodo menekankan bahwa faktor yang lebih relevan adalah zona megathrust di selatan Jawa, bukan aktivitas dari Palu. Ia juga menginformasikan bahwa catatan kegempaan di Bojonegoro tergolong sangat minim dan tidak ditemukan adanya sesar aktif yang melintas tepat di wilayah tersebut. "Kalau Bojonegoro enggak ada (sesar) malah," ujar Amien Widodo.

Meski demikian, Bojonegoro masih bisa merasakan getaran dari sesar terdekat seperti Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS) yang melewati bagian utara seperti Tuban. "Cuma yang agak di sebelah utaranya tadi, ada namanya sesar Rembang, Madura, Kangean ada namanya RMKS. Nah, itu memang melewati sebagian di Madura. Madura itu dilewati sesar tadi dua, kiri dan kanan. Nah, itu melewati memang di Tuban. Kalau Bojonegoro bisa terpengaruh begitu lah," jelasnya.

Di sisi lain, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, mengonfirmasi bahwa Sesar Kendeng memang merupakan patahan aktif yang melintasi Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, dan perlu diwaspadai karena jalur padat penduduk. "Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk," ujar Ricko Kardoso.

Ricko Kardoso menjelaskan bahwa Sesar Kendeng, yang kini digabung dalam sistem Java Back-arc Thrust berdasarkan kajian PuSGeN 2024, berpotensi menghasilkan gempa hingga Magnitudo 7 dalam skenario terburuk. "Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 Kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," tambahnya.