BOGORPLUS.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan prakiraan cuaca untuk Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pada hari Sabtu, 20 Juni 2026. Prakiraan menunjukkan bahwa wilayah ibu kota provinsi tersebut akan didominasi oleh potensi hujan ringan yang diperkirakan berlangsung dari pagi hingga menjelang malam hari.
Kondisi atmosfer di Pontianak hari itu diperkirakan sangat lembap, dengan tingkat kelembapan udara tercatat mencapai batas maksimum hingga 99 persen. Fenomena kelembapan tinggi ini dilaporkan akan memengaruhi fluktuasi suhu harian di wilayah tersebut.
Menurut data resmi BMKG Pontianak, tingginya kelembapan udara ini menyebabkan suhu harian di ibu kota Kalimantan Barat menjadi lebih rendah jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat Pontianak diimbau untuk mengantisipasi perubahan cuaca spesifik yang mungkin terjadi, terutama karena prakiraan menunjukkan intensitas hujan ringan yang merata di sejumlah kecamatan utama.
Untuk wilayah Pontianak Selatan, prakiraan cuaca pada Sabtu ini menunjukkan potensi hujan ringan dengan rentang suhu udara yang stabil, berkisar antara 24 hingga 30 derajat Celcius. Tingkat kelembapan di kawasan ini diproyeksikan sangat dinamis, bergerak antara 73 persen hingga 99 persen sepanjang hari.
Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di Kecamatan Pontianak Timur, di mana intensitas hujan ringan diperkirakan akan mengguyur wilayah tersebut. Suhu udara di Pontianak Timur juga diperkirakan berada dalam kisaran 24 hingga 30 derajat Celcius, dengan kelembapan yang sama tingginya, yaitu 73 persen hingga 99 persen.
Selain memberikan informasi harian, BMKG juga telah memaparkan ramalan cuaca jangka panjang untuk Kota Pontianak selama sepuluh hari ke depan, mulai dari 20 Juni hingga 29 Juni 2026. Informasi ini bertujuan memberikan panduan bagi masyarakat terkait perencanaan aktivitas mereka.
Terkait pertanyaan masyarakat mengenai udara yang terasa lembap dan panas, BMKG mengidentifikasi tingginya angka kelembapan mencapai 99 persen sebagai pemicu utama munculnya partikel basah di udara. Hal ini kemudian berdampak langsung pada penurunan jarak pandang di beberapa area.
"Tingginya angka kelembapan yang mencapai 99 persen menjadi pemicu utama munculnya partikel basah di udara, yang kemudian berdampak pada penurunan jarak pandang," terang salah satu petugas BMKG, sebagaimana dikutip dari artikel berita tersebut.






.png)