BOGORPLUS.ID - Kondisi operasional Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan jumlah armada pengangkut sampah. Per Selasa (9/6/2026), jumlah kendaraan yang berfungsi optimal jauh di bawah kebutuhan ideal untuk melayani seluruh wilayah kota.
Saat ini, DLH Kota Mataram hanya mampu mengoperasikan 32 unit truk sampah yang layak jalan. Tambahan satu unit kendaraan dari inisiatif Wali Kota Mataram membuat total armada aktif menjadi 33 unit pada hari tersebut.
Idealnya, untuk memastikan penanganan sampah berjalan optimal di seluruh pelosok Mataram, dibutuhkan setidaknya 50 unit armada pengangkut. Kekurangan armada ini menyebabkan potensi penumpukan sampah di sejumlah titik layanan.
Ketergantungan Horeka Bali pada Vendor Sampah Swasta Jadi Sorotan Pemerintah Pusat dan Daerah
Masalah ini diperparah oleh kondisi armada yang ada, di mana beberapa unit mengalami kerusakan suku cadang dan bak truk sudah tidak lagi layak pakai. Keterbatasan suku cadang dan perawatan menjadi penghambat utama efektivitas layanan.
Penurunan jumlah armada ini terjadi karena usulan penambahan lima unit kendaraan pada tahun berjalan harus dibatalkan. Pembatalan ini merupakan konsekuensi langsung dari pemangkasan anggaran yang dialami oleh Pemerintah Kota Mataram.
Keterbatasan fiskal daerah memaksa pemerintah untuk memprioritaskan alokasi dana setelah adanya pemotongan signifikan pada Dana Transfer Keuangan Daerah (TKD) dari pemerintah pusat. Hal ini memicu penyesuaian rencana belanja prioritas daerah.
Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menyatakan bahwa penambahan armada sangat mendesak untuk menjaga kualitas layanan kebersihan kota. "Kalau bicara ideal, masih kurang. Tahun depan insyaallah ada penambahan lagi, dari pokir dewan, Insyaallah ada," ujar Nizar Denny Cahyadi.
Beliau juga mengonfirmasi jumlah armada yang beroperasi saat ini dan menegaskan kebutuhan yang ada. "Sekitar 32 yang bisa jalan, ditambah 1 unit (dari wali kota), jadi 33 armada. Idealnya sekitar 50 unit," ujarnya.
Nizar Denny Cahyadi juga merinci kendala teknis yang dihadapi armada yang tersisa. "Suku cadangnya yang rusak, kemudian baknya juga sudah tidak layak. Itu yang perlu kami tambah lagi, untuk penanganan sampah," sambungnya.





