bogorplus.id - Depresi merupakan gangguan kesehatan mental serius yang ditandai dengan memburuknya suasana hati, kehilangan minat, hingga terganggunya pola makan dan tidur selama sedikitnya enam bulan. Meski dapat menyerang siapa saja tanpa memandang gender, data menunjukkan bahwa wanita memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan pria.
Para ahli menyebutkan bahwa kerentanan ini sering kali berkaitan erat dengan pengirim hormon yang dialami wanita sepanjang hidupnya. Berikut adalah enam faktor utama yang menyebabkan wanita lebih rentan mengalami depresi:
1. Perubahan Tubuh saat Masa Pubertas
Masa pubertas membawa perubahan fisik dan emosional yang drastis. Berdasarkan penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology , perubahan psikologis pada masa ini meningkatkan risiko depresi. Meski mengalami kedua jenis kelamin, anak perempuan memiliki risiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi untuk mengalami depresi dibandingkan anak laki-laki, terutama bagi mereka yang mengalami pubertas lebih awal.
2. Siklus Menstruasi dan PMDD
Perubahan hormon estrogen dan progesteron menjelang menstruasi umumnya memicu sindrom pramenstruasi (PMS) berupa perubahan suasana hati ( mood swing ). Namun, terdapat kondisi yang lebih berat bernama Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Wanita penderita PMDD memiliki risiko depresi yang jauh lebih besar hingga kecenderungan percobaan bunuh diri. Kondisi ini sering dikaitkan dengan rendahnya kadar serotonin, hormon pengatur emosi dalam tubuh.
3. Masa Kehamilan dan Pascapersalinan
Kehamilan memicu pergolakan hormon yang signifikan serta perubahan fisik yang drastis. Kondisi ini membuat ibu hamil rentan terhadap stres. Setelah melahirkan, wanita juga berisiko mengalami baby blues atau depresi pasca melahirkan yang dapat menghambat kemampuan mereka merawat bayi. Jika kondisi ini berlangsung lebih dari 14 hari, bantuan medis sangat diperlukan.
4. Fase Perimenopause
Risiko depresi kembali meningkat saat wanita memasuki masa perimenopause, yaitu masa transisi menuju menopause. Selain faktor ketidakseimbangan hormon, depresi pada fase ini sering kali dipicu oleh masalah kesehatan di usia tua, faktor atau psikologis, seperti perasaan kehilangan setelah anak-anak tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah.
5. Tekanan Lingkungan dan Peran Ganda
Faktor eksternal turut memegang peranan penting. Dilansir dari Mayo Clinic , tuntutan peran ganda sering kali menjadi pemicu stres kronis pada wanita. Misalnya, ketika seorang wanita harus bekerja secara profesional sekaligus memikul tanggung jawab penuh atas pekerjaan rumah tangga tanpa dukungan yang cukup. Selain itu, kerentanan wanita terhadap tindak pelecehan seksual juga menjadi faktor pemicu trauma dan depresi berat.
6. Faktor Genetik
Riwayat kesehatan keluarga juga mempengaruhi peluang terjadinya gangguan mental. Meski mutasi genetik terkait depresi berat ditemukan pada kedua gender, penelitian menunjukkan bahwa tren ini lebih menonjol pada wanita jika dikombinasikan dengan faktor biologis dan lingkungan lainnya.
Langkah Penanganan
Gejala depresi yang disebabkan oleh perubahan hormon temporer, seperti saat menjelang menstruasi atau awal kehamilan, biasanya akan membaik seiring stabilnya kadar hormon. Namun, jika gangguan suasana hati mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.

