BOGORPLUS.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan prakiraan cuaca untuk wilayah Bandung pada hari Jumat, 26 Juni 2026. Kondisi atmosfer diperkirakan didominasi oleh kondisi berawan yang menyelimuti langit, disertai dengan adanya udara kabur di beberapa lokasi.

Pada pagi hari, suhu udara di Bandung Raya dilaporkan mengalami penurunan signifikan, bahkan mencapai titik terendah hingga 18 derajat Celsius saat dini hari. Penurunan suhu ini menjadi perhatian utama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan pada jam-jam awal hari.

Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi fluktuasi suhu dingin yang terjadi selama periode kemarau ini, khususnya saat pagi hari dan malam hari. Kelembapan udara yang tinggi pada waktu fajar menjadi faktor pemicu utama munculnya kabut tipis di area dataran tinggi Bandung.

Data pemantauan dari stasiun meteorologi menunjukkan bahwa pada pukul 04.00 waktu setempat, kelembapan udara di Bandung mencapai angka 97 persen. Kecepatan angin tercatat bertiup sangat perlahan dari arah Barat Laut dengan kecepatan sekitar 3,9 kilometer per jam, yang turut memengaruhi jarak pandang.

Terkait jarak pandang, kondisi udara kabur menyebabkan visibilitas dilaporkan terbatas, yaitu kurang dari 7 kilometer di beberapa titik pemantauan. Kondisi ini memerlukan kewaspadaan ekstra bagi para pengguna jalan raya di wilayah Bandung.

Prakiraan cuaca sepanjang hari menunjukkan adanya dinamika kondisi cuaca yang cukup bervariasi, mulai dari pagi yang dingin hingga peningkatan suhu menjelang siang hari. Suhu akan kembali merosot tajam setelah matahari terbenam, mengikuti pola umum musim kemarau.

Banyak warga mulai mengeluhkan suhu malam yang terasa menusuk tulang, memunculkan pertanyaan populer di media sosial mengenai penyebab dinginnya Bandung belakangan ini. Fenomena penurunan suhu drastis ini merupakan hal yang lumrah terjadi saat memasuki periode musim kemarau di Jawa Barat.

Diterangkan bahwa ketiadaan tutupan awan pada malam hari memungkinkan radiasi panas bumi terlepas langsung ke luar angkasa tanpa tertahan. Hal ini berbeda ketika awan tebal berfungsi memantulkan kembali energi panas ke permukaan bumi, seperti dijelaskan oleh para ahli.

"Fenomena penurun suhu yang drastis ini sebenarnya lumrah terjadi ketika wilayah Jawa Barat memasuki periode musim kemarau," ujar salah satu sumber yang dikutip dari artikel asli.