bogorplus.id - Tetanus neonatorum tetap menjadi ancaman serius bagi keselamatan bayi baru lahir, terutama di wilayah dengan keterbatasan fasilitas medis. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, sehingga langkah pencegahan sejak dini menjadi prioritas utama dibandingkan pengobatan.
Penyakit ini umumnya ditemukan di daerah pedesaan atau terpencil di mana akses terhadap tenaga medis profesional masih sulit dijangkau. Bayi baru lahir berisiko tinggi terinfeksi jika proses persalinan dilakukan dengan bantuan peralatan yang tidak steril.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab utama tetanus neonatorum adalah bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini menghasilkan racun yang menyerang otak serta sistem saraf pusat. C. tetani jamak ditemukan pada tanah, debu, dan kotoran hewan, yang kemudian masuk ke tubuh bayi melalui luka terbuka, seperti pemotongan tali pusar yang tidak higienis.
Selain praktik persalinan yang tidak steril, risiko infeksi meningkat apabila ibu hamil tidak mendapatkan perlindungan vaksin Tetanus Toxoid (TT). Tanpa vaksinasi, baik ibu maupun bayi tidak memiliki kekebalan terhadap serangan bakteri ini. Beberapa faktor risiko lainnya meliputi proses persalinan di rumah tanpa prosedur medis standar, paparan material terkontaminasi seperti lumpur pada alat persalinan, serta riwayat tetanus neonatorum pada anak sebelumnya.
Mengenali Gejala pada Bayi
Gejala tetanus neonatorum biasanya mulai muncul pada hari kedua hingga ketiga setelah kelahiran. Beberapa tanda klinis yang perlu diwaspadai oleh orang tua antara lain:
1. Otot wajah dan rahang bayi mengencang.
2. Mulut terasa kaku (terkunci) sehingga bayi tidak dapat menyusu.
3. Kekakuan otot menyeluruh yang membuat tubuh bayi menegang atau melengkung ke belakang (opistotonus).
4. Kejang yang dipicu oleh rangsangan suara, cahaya, atau sentuhan.
Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan bayi gagal napas. Sebagian besar kasus kematian akibat tetanus neonatorum terjadi dalam rentang waktu 3 hingga 28 hari setelah bayi dilahirkan.
Langkah Pencegahan dan Peran Medis
Pencegahan utama dilakukan melalui pemberian vaksinasi TT kepada ibu hamil. Dokter biasanya memberikan dosis pertama pada trimester ketiga, diikuti dosis kedua minimal empat minggu setelahnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga merekomendasikan dosis ketiga enam bulan kemudian untuk memberikan perlindungan jangka panjang hingga lima tahun.
Selain vaksinasi, memastikan persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan dengan prosedur steril adalah kunci utama. Kementerian Kesehatan RI pun terus berupaya menekan angka kasus dengan menempatkan bidan desa di wilayah kerja Puskesmas untuk memantau kesehatan ibu dan anak serta mendampingi proses persalinan yang aman.
Mengingat dampaknya yang fatal, orang tua diimbau untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis jika menemukan gejala mencurigakan pada bayi baru lahir guna mendapatkan penanganan darurat yang tepat.

