BOGORPLUS.ID - Fenomena peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Kuningan menjadi perhatian serius. Data menunjukkan adanya lonjakan signifikan dalam kurun waktu dua tahun terakhir, sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Menurut data yang dihimpun oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Kuningan, total kasus kekerasan pada tahun 2024 mencapai angka 135. Angka ini terdiri dari 33 kasus kekerasan pada perempuan dan 102 kasus yang menimpa anak-anak.

Peningkatan drastis terlihat jelas pada tahun berikutnya, yakni 2025, di mana total kasus melonjak menjadi 253 insiden. Rinciannya menunjukkan 62 kasus menimpa perempuan dan 191 kasus melibatkan anak-anak di wilayah tersebut.

Sementara itu, tren kenaikan ini masih berlanjut hingga pertengahan tahun 2026; tercatat sudah ada 75 kasus hingga bulan Mei. Data tersebut mencakup 26 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 49 kasus kekerasan anak selama periode tersebut.

Kasubag Tata Usaha UPTD PPA Kuningan, Euis, membenarkan adanya grafik peningkatan kasus kekerasan yang signifikan dalam dua tahun belakangan. Hal ini menunjukkan urgensi penanganan yang lebih intensif di wilayah Kuningan.

Euis menjelaskan bahwa jenis kekerasan yang dilaporkan sangat beragam, meliputi perselisihan dalam rumah tangga, aksi tawuran antar remaja, hingga tindak pidana kekerasan seksual. Beragamnya jenis kasus ini memerlukan pendekatan yang komprehensif.

"Iya yang masuk pada kami memang itu beragam, cuman mayoritas itu sekarang ini adanya kayak semacam tawuran, KDRT, kekerasan seksual kayak pencabulan, segala macam seperti itu," ucap Euis saat dikonfirmasi pada Kamis (25/6/2026).

Terkait dengan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Euis menyebutkan bahwa kendala ekonomi seringkali menjadi akar permasalahan utama yang mendorong terjadinya kekerasan, terutama yang bersifat psikis. "Biasanya memang kebanyakan yang datang kepada kami itu untuk masalah KDRT itu secara psikis. Karena memang pemicunya juga dari masalah ekonomi," jelas Euis.

Faktor lain yang signifikan memicu peningkatan kekerasan pada anak adalah perkembangan teknologi dan intensitas aktivitas di media sosial. Anak-anak dinilai mudah terpengaruh oleh konten negatif yang mereka saksikan.