BOGORPLUS.ID - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur baru-baru ini melaksanakan program pelepasliaran tiga individu orang utan ke habitat alaminya. Satwa primata tersebut resmi dikembalikan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, yang terletak di Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.
Proses pengembalian ini merupakan puncak dari keberhasilan program rehabilitasi yang telah dijalani oleh orang utan bernama Bagus, Eboni, dan Ruby. Mereka sebelumnya harus menjalani pemulihan intensif karena telah kehilangan naluri liar akibat sempat dipelihara secara ilegal oleh masyarakat.
Dilansir dari Detikcom, orang utan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Berau untuk memulihkan kemampuan bertahan hidup mereka di alam liar. Keterampilan dasar seperti mencari pakan dan membuat sarang harus dilatih ulang secara menyeluruh.
Widi Nursanti, selaku Manager pusat rehabilitasi orang utan COP, menjelaskan kondisi awal satwa sebelum dilepasliarkan. "Mereka tidak memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup di hutan, seperti memanjat pohon, mencari sumber pakan alami, dan bahkan membuat sarang untuk tidur," ujar Widi Nursanti, Jumat (26/6/2026).
Proses rehabilitasi di BORA terbagi dalam tiga tahapan ketat yang bertujuan mengembalikan insting satwa. Tahapan ini meliputi pemeriksaan kesehatan menyeluruh, pelatihan keterampilan di "sekolah hutan," hingga fase adaptasi akhir.
Widi Nursanti merinci tahapan krusial tersebut, memastikan bahwa satwa siap secara fisik dan mental. "Jadi kami memastikan satwa bebas dari penyakit menular, sekolah hutan untuk melatih kembali keterampilan dasar memanjat, mencari makan, dan membuat sarang, dan tahap adaptasi final selama empat bulan di sebuah pulau buatan yang menyerupai habitat asli untuk menguji kemandirian mereka tanpa intervensi manusia," jelas Widi Nursanti.
Pemilihan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat sebagai lokasi pelepasliaran telah melalui kajian matang oleh BKSDA Kaltim. Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menegaskan bahwa kawasan tersebut memiliki ekosistem yang sangat mendukung kelangsungan hidup orang utan.
"Karena memiliki ketersediaan pakan alami yang melimpah untuk mendukung keberlangsungan hidup orang utan," tutur M Ari Wibawanto mengenai alasan kawasan KPHP Kelinjau tersebut dipilih sebagai rumah baru bagi ketiga primata tersebut.
Pelepasliaran ini menambah total populasi orang utan yang berhasil dikembalikan ke kawasan Gunung Batu Mesangat dalam empat tahun terakhir menjadi 18 individu. Setelah dilepas, tim lapangan akan terus memantau kondisi mereka untuk memastikan proses adaptasi berjalan sukses.






.png)