bogorplus.id– Warga Kampung Raweuy, Desa Ciadeg, menutup tahun dengan cara berbeda. Tanpa kembang api dan pesta seremonial, mereka memilih refleksi akhir tahun melalui seni budaya dan hiburan rakyat yang menyuarakan kepedulian terhadap alam dan kemanusiaan.

Puncaknya, musikalisasi puisi yang dibawakan Pemuda Benalu mengubah panggung desa menjadi ruang renung dan empati bersama.

Di hadapan warga, Pemuda Benalu tersebut membawakan musikalisasi puisi bertema lingkungan berjudul “Pentingnya Menjaga Alam Tanah Sunda”.

Perpaduan instrumen tradisional dan modern mengiringi bait-bait puisi yang menegaskan relasi manusia dengan tanah serta tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.

Penampilan itu tidak sekadar menghibur, tetapi mengajak penonton berhenti sejenak untuk merenung.

“Puisi ini kami persembahkan sebagai pengingat bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan rumah yang harus dijaga bersama,” ujar salah satu perwakilan Pemuda Benalu di sela penampilan.

Pada momen yang sama, mereka juga menyampaikan duka cita atas bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, khususnya Aceh.

Ungkapan solidaritas itu menguatkan pesan bahwa kerusakan alam berdampak langsung pada kehidupan manusia. Panggung hiburan rakyat pun berubah menjadi ruang doa dan kepedulian lintas daerah.

Selain musikalisasi puisi, refleksi akhir tahun ini menampilkan beragam kesenian tradisional, seperti calung, tarawangsa, karinding, tarian rakyat, hingga pencak silat Cimande.