BOGORPLUS.ID - Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan selalu diiringi dengan tradisi pemasangan penjor di setiap rumah dan lembaga keagamaan di Bali. Momen sakral ini mendorong peningkatan tajam permintaan jasa pembuatan penjor di wilayah Badung, Bali, pada Senin, 15 Juni 2026.

Fenomena ini terjadi karena banyak masyarakat perkotaan memiliki keterbatasan waktu untuk membuat penjor secara mandiri, sehingga mereka memilih menggunakan jasa profesional. Jasa pembuatan sekaligus pemasangan penjor menjadi solusi praktis bagi mereka yang padat aktivitas sehari-hari.

Dilansir dari Detikcom, para perajin musiman yang fokus pada dekorasi bambu sakral ini kini mulai memadati lokasi-lokasi strategis di Badung. Beberapa titik fokus produksi antara lain Jalan Raya Kerobokan, Jalan Raya Tuka di Dalung, Jalan Raya Kapal, dan kawasan Jalan Denpasar-Gilimanuk di Desa Mengwitani, Mengwi.

Proses pembuatan penjor dianggap rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi, sehingga kapasitas produksi harian para perajin menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan banyak pesanan yang harus dibatasi oleh para pengrajin menjelang hari besar.

Salah seorang perajin penjor yang ditemui di Banjar Lodapura, Desa Mengwitani, I Nyoman Sukadana, mengungkapkan bahwa ia terpaksa menolak pesanan karena volumenya sudah melebihi kapasitas. "Pekerjaan bikin penjor ini sebenarnya rumit sekali, makanya satu hari paling banyak cuma bisa selesai lima penjor. Bahkan, sekarang saya sampai terpaksa menolak banyak pesanan dari pelanggan karena sudah kewalahan," ujar I Nyoman Sukadana pada Senin (15/6/2026).

Sukadana menjelaskan bahwa lonjakan pesanan sudah mulai diterima sejak sepekan sebelumnya, namun keterbatasan tenaga kerja memaksanya harus membatasi kuota demi menjaga mutu hasil kerjanya. Para perajin kini harus berpacu dengan waktu karena batas akhir pemesanan akan ditutup pada hari Selasa besok.

Penentuan waktu penancapan penjor juga sangat bergantung pada perhitungan hari baik atau kedewasan dalam kalender Bali, yang memengaruhi jadwal kerja para perajin. "Hari ini tidak bisa menancapkan penjor karena bertepatan dengan hari Kajeng, jadi kami hanya focus memproduksi saja dahulu. Besok Selasa pas hari Penampahan Galungan, barulah kami lanjut mengantar dan memasangnya dari pagi sampai sore," jelas pria yang dibantu oleh dua orang tenaga kerja tersebut.

Peningkatan permintaan ini tentu membawa dampak ekonomi positif bagi para pelaku usaha lokal di sektor kerajinan tradisional ini. Kadek Merta, perajin penjor lain dari Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, memaparkan variasi harga yang ditawarkan kepada konsumen sangat bervariasi.

Penentuan harga jual dipengaruhi oleh tingkat kerumitan hiasan dan jenis dekorasi yang diinginkan oleh pemesan, seperti yang disampaikan oleh Kadek Merta. "Untuk penjor yang memakai hiasan kolong biasa harganya sekitar Rp 400 ribu, sedangkan kalau memakai variasi kolong kobra harganya mencapai Rp 500 ribu karena janurnya lebih besar dan bahannya lebih mahal. Selain itu, ada juga jenis penjor kolong ratna yang harganya berkisar antara Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu, semua tergantung jenis pesanan masyarakat," ungkap Kadek Merta merinci harga produknya.