BOGORPLUS.ID - BYD, pabrikan otomotif asal Shenzhen, mengalami penurunan performa pasar yang signifikan di Indonesia selama periode Mei 2026. Penurunan ini menyebabkan merek tersebut absen dari daftar mobil terlaris di Tanah Air pada bulan tersebut.

Menurut data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), yang dikutip dari Detik Oto, distribusi wholesales BYD dari pabrik ke dealer mengalami penyusutan tajam. Angkanya hanya mencapai 895 unit pada Mei 2026, berbanding terbalik dengan pencapaian bulan sebelumnya yang mencapai 4.625 unit.

Kondisi serupa juga terjadi pada data penjualan retail yang menunjukkan penurunan signifikan. Penjualan retail BYD tercatat sebanyak 2.892 unit pada Mei 2026, yang mana angka ini jauh di bawah capaian bulan April yang menyentuh angka 6.274 unit.

Akibat penurunan volume penjualan ini, BYD terlempar dari daftar 10 besar merek dengan penjualan wholesales terbaik. Meskipun demikian, performa ritel mereka masih mampu bertahan dalam jajaran 10 besar merek teratas di pasar domestik.

Lebih lanjut, dalam daftar 20 model mobil terlaris, tidak ada satu pun model dari BYD yang berhasil masuk dalam periode tersebut. Padahal, pada bulan April, dua model andalan mereka, yaitu M6 dan Sealion 7, sempat masuk dalam daftar kendaraan paling diminati konsumen.

Penyusutan volume penjualan ini diduga kuat berkaitan erat dengan keputusan perusahaan untuk menahan aktivitas impor mobil utuh atau Completely Built Up (CBU). Langkah ini diambil seiring dengan fokus utama korporasi yang sedang merampungkan pembangunan fasilitas perakitan lokal di Subang.

Data Gaikindo menunjukkan bahwa pada periode tersebut, hanya tiga varian BYD yang masih didatangkan secara CBU dari China: Seal Dynamic, Atto 3 Advanced Standard Range, dan Atto 3 Superior Extended Range. Namun, aktivitas impor untuk ketiga model tersebut tercatat nihil sepanjang Mei 2026.

Sementara itu, fasilitas manufaktur domestik BYD yang berlokasi di Subang dilaporkan belum mulai beroperasi secara penuh. Hingga kini, basis data produksi otomotif nasional belum merekam adanya aktivitas perakitan atau pembuatan unit mobil BYD di dalam negeri karena regulasi masih dalam tahap finalisasi.

Head of Marketing PR and Government Relations BYD Indonesia, Luther Panjaitan, mengonfirmasi bahwa pengerjaan pabrik tersebut sedang menyelesaikan beberapa fase krusial. Ia menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh proses mematuhi regulasi serta standar kualitas global yang berlaku.