BOGORPLUS.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) secara resmi meluncurkan program strategis bertajuk Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) di Surabaya pada hari Rabu, 24 Juni 2026. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim.

Program PESTANA ini difokuskan pada pemberian edukasi komprehensif mengenai potensi bahaya bencana alam kepada seluruh santri yang menempuh pendidikan di pondok pesantren di Jawa Timur. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap tingginya kerentanan wilayah tersebut terhadap berbagai ancaman alam.

Kebutuhan pengembangan program ini menjadi sangat mendesak mengingat Jawa Timur menaungi lebih dari 7.425 pondok pesantren dengan total sekitar 486 ribu santri yang rentan terdampak bencana. Selain itu, terdapat pula lebih dari 36 ribu tenaga pendidik di lingkungan tersebut.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Jatim, Agung Subagyo, menyoroti pentingnya sinergi antarlembaga dalam mengimplementasikan PESTANA. "Tentu semua membutuhkan adanya penguatan kemitraan yang saling bersinergi untuk mengembangkan PESTANA. Sebab, penanggulangan bencana bukan semata tugas BPBD," kata Agung di Surabaya, Rabu (24/6/2026).

Agung Subagyo menjelaskan bahwa data menunjukkan bahwa pesantren kerap menjadi salah satu kelompok yang terdampak signifikan saat bencana terjadi. Ia mencontohkan dampak dari Erupsi Gunung Semeru pada tahun 2021 yang menimpa sejumlah pesantren di Lumajang, belum lagi ancaman rutin seperti banjir dan cuaca ekstrem.

Karakteristik kehidupan komunal di pesantren, terutama dengan bangunan yang seringkali bertingkat, menambah kompleksitas upaya penyelamatan saat terjadi bencana mendadak. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan aktif dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki kompetensi terkait.

"Mereka perlu diedukasi melalui rencana kontingensi, gladi, simulasi, dan sosialisasi pemahaman mengenai mitigasi sesuai dengan tipologi bencananya. Dengan demikian, santri dan penghuni pesantren siap selamat ketika menghadapi bencana," tambah Agung Subagyo, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Jawa Timur.

BPBD Jatim sendiri telah mengidentifikasi terdapat 14 jenis ancaman bencana alam yang mengintai di wilayahnya, mulai dari tanah longsor, banjir, gempa bumi, hingga puting beliung. Kondisi geografis ini menuntut kesiapsiagaan menyeluruh dari seluruh elemen di lingkungan pesantren.

Dadang Iqwandy, Ketua Tim Pencegahan BPBD Jatim, menekankan bahwa program ini adalah upaya kolektif untuk memastikan kesiapan fisik, mental, dan pengetahuan seluruh warga pesantren. "Kondisi ini menuntut peningkatan kesiapsiagaan di semua lini, termasuk di lingkungan pesantren mulai dari pengasuh, santri, tenaga pendidik, hingga masyarakat sekitar," beber Dadang Iqwandy, Ketua Tim Pencegahan BPBD Jatim.