BOGORPLUS.ID - Kebijakan pemadaman listrik bergilir yang diterapkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) di sejumlah wilayah Jawa Timur telah menimbulkan dampak signifikan pada Jumat (19/6) sore hingga malam hari. Peristiwa ini tidak hanya menyebabkan kegelapan di area publik, tetapi juga memicu insiden kebakaran di Kabupaten Probolinggo.

Salah satu fasilitas publik yang terdampak langsung oleh pemadaman ini adalah Stasiun Gubeng Surabaya, yang mengalami kegelapan total pada waktu tersebut. Meskipun demikian, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 8 Surabaya telah mengambil langkah antisipatif untuk memastikan operasional kereta api tetap berjalan normal.

Gangguan pasokan listrik di sisi barat Stasiun Surabaya Gubeng berhasil diatasi dengan segera menggunakan perangkat generator set (genset) yang dimiliki stasiun. Hal ini menunjukkan kesiapan manajemen stasiun dalam menghadapi pemadaman tak terduga dari PLN.

Pelaksana Harian Manager Humas Daop 8 Surabaya, Erlangga Budi Laksono, mengonfirmasi bahwa seluruh operasional perjalanan kereta api tetap aman dan lancar meskipun terjadi pemadaman. Ia juga menegaskan bahwa sistem pelayanan untuk pengguna jasa tidak sampai mengalami kelumpuhan total.

"Kendati demikian, beberapa fasilitas untuk layanan pengguna masih tetap beroperasi normal dengan pasokan aliran listrik dari fasilitas genset stasiun," ungkap Erlangga dalam keterangan tertulis yang diterima detikJatim.

Sementara itu, dampak yang lebih fatal terjadi di Kabupaten Probolinggo, di mana satu unit rumah warga di Dusun Karanglo, Desa Semampir, Kecamatan Semampir, ludes terbakar. Kebakaran ini diduga kuat dipicu oleh penggunaan lilin saat listrik padam.

Diduga kuat, lilin yang sedang menyala tersebut terjatuh dan mengenai material yang mudah terbakar di dalam rumah, menyebabkan api membesar dengan cepat di kawasan padat penduduk tersebut. Warga setempat bergegas melakukan upaya pemadaman awal sebelum bantuan datang.

Ageng, salah seorang warga setempat, menceritakan bagaimana warga bahu-membahu memadamkan api dengan alat seadanya. "Warga mengambil air dari sungai menggunakan ember untuk memadamkan api karena khawatir kobaran api merembet ke rumah lainnya. Apalagi jarak antar rumah di lokasi cukup berdekatan," ujar Ageng.

Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Probolinggo segera menerjunkan empat unit armada ke lokasi kejadian untuk membantu memadamkan api yang semakin membesar. Petugas membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk meredam amukan si jago merah.