bogorplus.id – Bogor, salah satu kota bersejarah di Jawa Barat, memiliki keunikan tersendiri dalam penamaannya. Berbeda dengan mayoritas daerah di Tatar Sunda yang identik dengan unsur "Ci" atau air, nama Bogor justru berkaitan erat dengan unsur pepohonan, khususnya pohon enau atau kawung. Perjalanan nama ini menyimpan perpaduan antara fakta sejarah, legenda, dan filosofi yang mendalam.
Jejak pemukiman di wilayah Bogor diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Pajajaran. Berdasarkan naskah Sunda kuno Bujangga Manik, ibu kota kerajaan ini terletak di sekitar Sungai Cipakancilan. Namun, setelah Pajajaran runtuh akibat serangan Banten pada abad ke-16, wilayah ini sempat terbengkalai dan menjadi hutan belantara.
Saat VOC melakukan peninjauan, mereka hampir tidak menemukan sisa kehidupan manusia, melainkan kawanan harimau. Fenomena inilah yang kemudian memunculkan cerita rakyat tentang sosok orang Pajajaran yang berubah wujud menjadi harimau. Wilayah ini baru kembali berdenyut setelah munculnya Kampung Baru, yang menjadi cikal bakal perkembangan Kota Bogor di masa depan.
Mitos Nama Buitenzorg
Banyak masyarakat yang keliru menganggap nama Bogor berasal dari kata "Buitenzorg". Faktanya, Buitenzorg adalah nama kolonial yang diberikan oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem van Imhoff pada tahun 1745. Nama tersebut diberikan untuk pesanggrahan yang kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor.
Secara harfiah, Buitenzorg berarti "bebas dari kesulitan" atau "tanpa rasa khawatir". Van Imhoff memilih lokasi ini karena udaranya yang sejuk, menjadikannya tempat peristirahatan ideal di luar Batavia. Arsitektur bangunannya sendiri terinspirasi dari Blenheim Palace di Inggris. Meski kawasan di sekitarnya kemudian dikenal sebagai Buitenzorg selama masa Hindia Belanda, nama tersebut bukanlah asal-usul dari kata Bogor.
Titik Awal Jalan Raya Pos
Peran strategis Bogor semakin menguat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pada 5 Mei 1808, Buitenzorg ditetapkan sebagai titik awal pembangunan proyek ambisius Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan). Jalur ini menghubungkan Bogor menuju Sumedang melalui Cisarua, Cianjur, hingga Bandung. Sejarah pembangunan jalan monumental ini bahkan diabadikan oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.
Etimologi dan Filosofi Pohon Enau
Versi yang paling kuat mengenai asal-usul nama Bogor merujuk pada banyaknya pohon enau atau kawung di kawasan tersebut. Dalam bahasa Sunda, tunggul atau sisa batang pohon enau yang telah ditebang disebut sebagai "bogor" atau "pogor". Karena banyaknya tunggul kawung saat pembukaan lahan pemukiman, masyarakat setempat mulai menyebut wilayah tersebut sebagai Bogor.
Penelitian Yayat Sudaryat dalam kajian Sasakala Tempat di Jawa Barat memperkuat teori ini. Ia mengutip carita pantun Ngadegna Dayeuh Pajajaran yang dibawakan oleh Ki Cilong. Dalam tradisi lisan tersebut, "Bogor" digambarkan sebagai kayu yang memiliki karakter istimewa: jika dibakar, apinya tidak besar namun tidak mudah padam, melainkan menyala tenang dan tahan lama.
Lebih lanjut, kayu bogor dikenal sangat kuat jika dijadikan penyangga bangunan. Simbolisme ini mencerminkan karakter wilayah Bogor yang tangguh, tidak mudah goyah, dan mampu bertahan melintasi berbagai perubahan zaman—mulai dari pusat Kerajaan Pajajaran, masa kolonial Buitenzorg, hingga menjadi kota modern yang tetap menjaga identitas budayanya.