BOGORPLUS.ID - Penderitaan warga di Dusun Kedondong, Desa Pilangrejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, mencapai puncaknya akibat krisis air bersih yang melanda. Kejadian ini dipicu oleh matinya jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang terjadi secara rutin setiap hari.

Peristiwa ini mulai menjadi sorotan publik pada hari Senin (22/6/2026), ketika warga yang sangat membutuhkan pasokan air untuk kebutuhan dasar sehari-hari mendapati aliran air PDAM kembali terhenti. Krisis ini menyentuh sekitar 160 Kepala Keluarga (KK) yang merupakan pelanggan aktif PDAM di wilayah tersebut.

Menurut Ketua RW 4 Desa Pilangrejo, Suyono, gangguan aliran air ini berlangsung dari pagi hari hingga sore, bahkan sering kali berlanjut hingga malam hari. Situasi ini memaksa warga harus berebut air saat pasokan kembali mengalir sebentar saja.

Suyono menjelaskan bahwa ketika air kembali mengalir, kondisinya sangat minim dan hanya berupa tetesan, sehingga menimbulkan perebutan di antara warga. "Setiap hari pagi sampai sore bahkan malam juga mati. Saat hidup air buat rebutan hanya netes saja akhirnya," jelas Suyono.

Keluhan mengenai buruknya layanan ini telah disampaikan oleh masyarakat secara berulang kali kepada kantor PDAM Unit Kecamatan Wungu. Ironisnya, masalah ini diklaim telah terjadi dan berlangsung selama kurun waktu lima tahun terakhir tanpa ada perubahan signifikan.

"Sudah sering komplain tapi tetap tidak ada kelanjutan dari PDAM. Bahkan sejak lima tahun lalu. Mohon PDAM cabang Madiun segera cari solusi," papar Suyono, menegaskan desakan warga akan penanganan yang tuntas.

Kondisi geografis Dusun Kedondong yang terletak di kaki Gunung Wilis menambah kerumitan masalah, karena warga tidak memiliki akses mudah ke sumur tradisional. Sungai terdekat yang dahulu menjadi sumber alternatif kini dilaporkan telah mengering total.

"Dulu sebelum PDAM masuk warga gunakan air sungai depan rumah yang mengalir dari gunung wilis. Namun saat ini sudah tidak ada air di sungai," tandas Suyono, menyoroti hilangnya sumber air alami.

Warga lain, Wawan (45) dari RT 16, turut mengonfirmasi bahwa masalah distribusi air yang tidak stabil ini sudah terjadi selama lima tahun, terlepas dari pergantian kepala unit PDAM setempat. Ia terpaksa menampung air yang kualitasnya sangat buruk dari area persawahan sebagai upaya darurat.