BOGORPLUS.ID - Aksi unjuk rasa yang digelar oleh kelompok yang menamakan diri Rakyat Surabaya Menggugat pada Senin (22/6/2026) mengakibatkan penutupan sementara arus lalu lintas di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya. Penutupan ini berlokasi strategis di depan Gedung Negara Grahadi, pusat pemerintahan provinsi Jawa Timur.

Peristiwa ini terjadi pada sore hari, yakni sekitar pukul 15.20 WIB, ketika massa mulai memadati area tersebut. Massa yang berunjuk rasa didominasi oleh elemen masyarakat sipil dan sejumlah mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Surabaya.

Dilansir dari Detikcom, diperkirakan sekitar 200 orang berpartisipasi dalam demonstrasi kali ini, yang menuntut berbagai perubahan kebijakan dari pemerintah. Aksi ini telah diantisipasi sebelumnya, dengan pengamanan ketat dari ratusan personel kepolisian yang bersiaga di sekitar lokasi.

Sebelum tiba di Grahadi, para demonstran memulai aksinya dengan melakukan long march dari titik kumpul awal mereka di Taman Bambu Runcing Surabaya. Proses long march ini berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat keamanan untuk memastikan kelancaran dan keamanan selama perjalanan.

Inti dari demonstrasi ini adalah penyampaian sembilan tuntutan utama yang dibawa oleh massa pengunjuk rasa. Salah satu sorotan utama adalah memburuknya kondisi sosial ekonomi masyarakat saat ini serta menurunnya tingkat kepercayaan pasar terhadap kebijakan yang berlaku.

Selain isu ekonomi domestik, para orator juga menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, khususnya terkait alokasi anggaran negara. Kritik ini disampaikan secara langsung dari atas mobil komando yang menjadi pusat orasi.

Salah satu poin krusial yang diangkat adalah mengenai prioritas anggaran, di mana mahasiswa menilai program makan bergizi gratis (MBG) tidak seharusnya didahulukan di atas sektor pendidikan. Hal ini disampaikan oleh perwakilan mahasiswa yang menjadi juru bicara aksi tersebut.

"Pendidikan prioritas utama, bukan MBG. Kita lihat kepala BGN jadi tersangka. Saya Presiden BEM Unitomo, Prabowo Gibran harus turun," ujar Wa Ode Maghfiroh, Presiden BEM Unitomo.

Kritik tersebut didasari oleh pandangan bahwa keberlanjutan program MBG dianggap menggerus alokasi dana yang seharusnya lebih fokus pada sektor pendidikan nasional. Hal ini menjadi salah satu landasan utama penolakan para mahasiswa dalam aksi hari itu.