bogorplus.id – Kapten Tubagus Muslihat adalah pemimpin Kompi IV Batalyon II Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebelum menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dikenal saat ini.
Kapten Muslihat diakui sebagai salah satu penggerak pejuang Republik Indonesia yang sangat bersemangat menyerang markas-markas Inggris.
Sayangnya, Kapten Muslihat harus kehilangan nyawa dalam pertempuran melawan tentara Inggris. Sebagai penghormatan terhadap jasa dan perjuangannya, namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Bogor, yakni Jalan Kapten Muslihat yang terletak di depan Alun-alun Kota Bogor.
Menurut cerita salah satu veteran di Kota Bogor, Ma’mun Permadi, pada 25 Desember 1945, terjadi pertempuran di mana rakyat Bogor, yang dipimpin oleh Kapten Muslihat, melakukan pemberontakan.
Mereka menggunakan senjata yang tersedia, seperti bambu runcing, golok, dan pedang. Dengan keberanian yang luar biasa, mereka menyerang markas-markas yang dikuasai oleh Inggris.
Suara tembakan dan teriakan “merdeka” memenuhi udara saat kontak senjata terjadi. Angkatan Inggris dan para pejuang terlibat baku tembak. Kapten Muslihat kemudian dengan berani keluar dari tempat persembunyiannya untuk melakukan serangan terbuka, menembaki para penjajah sehingga sebagian dari tentara Inggris pun terjatuh.
Namun, dalam baku tembak tersebut, peluru musuh berhasil mengenai perut Kapten Muslihat. Meski demikian, Sang Kapten tetap berjuang dengan menembaki penjajah. Peluru kedua kembali menghantam pinggangnya, mengakibatkan Kapten Muslihat terjatuh dan tersungkur. Darah yang mengalir membuat kaos putih yang dikenakannya berubah menjadi merah.
“Kapten Muslihat gugur di usia 19 tahun dan meninggalkan istri yang tengah mengandung. Saat itu teringat sekali pesannya harta yang dimilikinya agar diberikan kepada yang tidak mampu dan jika istrinya melahirkan anak laki-laki agar diberi nama Tubagus Merdeka,” kata Ma’mun yang dikutip dari kotabogor.go.id.
Berbagai pertempuran terjadi pada masa itu, tidak hanya di wilayah Bogor saja, tetapi juga di daerah lain. Salah satunya, pertempuran di Kota Paris (Pasar Mawar) yang berlangsung pada malam hari, di mana di lokasi itu terdapat kompleks hunian untuk warga Belanda (Kamp para interniran).