BOGORPLUS.ID - Suasana sore di Kampung Cibulao, Bogor, terasa syahdu ketika kabut Halimun menggantung rendah di antara perkebunan teh yang mengelilingi area tersebut. Hujan yang turun perlahan membasahi lereng-lereng, mengingatkan warga akan masa lalu yang penuh kegelisahan.
Dahulu, turunnya hujan sering kali membawa firasat buruk dan rasa was-was bagi penduduk setempat karena sering dihubungkan dengan potensi bencana alam. Ketakutan semacam itu pernah dirasakan oleh Partinah (61), yang kini duduk santai di teras rumahnya dengan logat Jawa yang kental.
Partinah, yang akrab disapa Emak, kini tersenyum lega melihat perubahan di kampungnya, sebuah perubahan yang ia bantu wujudkan berkat tanaman yang dibawanya dari tempat yang sangat jauh. Kisah perjuangannya berfokus pada upaya mengubah kampung yang tadinya muram menjadi lebih produktif dan aman.
Perjalanan Partinah dan suaminya, Nardi, dimulai sekitar 36 tahun lalu ketika mereka pertama kali tiba di Kampung Cibulao sebagai buruh di perkebunan teh setempat. Kampung ini merupakan permukiman khusus bagi para pekerja perkebunan teh di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Lokasi geografis Kampung Cibulao sangat strategis, berada sangat dekat dengan Telaga Saat, yang dikenal sebagai titik nol kilometer Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Aliran sungai ini memiliki peran krusial karena membelah wilayah metropolitan Jakarta.
Bagi Emak Partinah dan keluarganya saat itu, Cibulao adalah dunia baru yang menawarkan penghidupan, meskipun dibayangi oleh kerentanan lingkungan di hulu sungai. Namun, di balik kesederhanaan penampilannya, tersimpan narasi tentang ketekunan dalam restorasi lingkungan.
"Saat ia berbicara, terdengar logat Jawa yang kental. Senyumnya merekah, menghiasi wajah yang dibingkai kerudung hitam yang pudar termakan usia," demikian deskripsi yang menggambarkan keteguhan Partinah dalam menghadapi tantangan hidup di sana.
Kisah Partinah dan suaminya menjadi simbol bagaimana inisiatif warga, seperti pengembangan Kopi Cibulao, dapat menjadi solusi nyata dalam upaya pemulihan ekologis hulu Ciliwung. Upaya ini menunjukkan peran vital petani dalam menjaga keseimbangan sumber daya air Jakarta.
Dilansir dari detikJabar, foto yang menyertai kisah ini menampilkan Kiryono, seorang petani Kopi Cibulao, yang menjadi salah satu representasi dari komunitas petani yang berjuang di kawasan tersebut.






.png)