BOGORPLUS.ID - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus memperkuat upaya mitigasi di berbagai lokasi yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah ini diambil untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan mengutamakan keselamatan warga serta membangun ketahanan wilayah dalam jangka panjang.

Upaya penguatan mitigasi ini diwujudkan melalui kunjungan lapangan oleh Tim Satgas PRR Aceh bersama mitra teknis seperti Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan PT Hutama Karya. Kunjungan tersebut dilakukan pada Jumat (12/6) ke dua lokasi kritis, yaitu kawasan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah dan area fenomena sinkhole di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.

Dua lokasi tersebut menjadi prioritas karena keduanya menunjukkan risiko lanjutan yang signifikan pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut. Di kawasan Enang-Enang, kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan terjadi akibat dampak dari longsoran dinding tebing yang disertai banjir bandang yang melanda sebelumnya.

Sementara itu, di Kampung Pondok Balek, fenomena tanah amblas atau sinkhole masih berpotensi melebar dan mengancam berbagai fasilitas vital. Ancaman tersebut mencakup lahan pertanian warga, akses jalan utama, hingga jaringan distribusi kelistrikan di sekitar area tersebut.

Mengenai kondisi tanah di lokasi sinkhole, BPJN dan PT Hutama Karya memberikan evaluasi penting mengenai komposisi geologisnya. "Struktur tanah di area sinkhole didominasi material bekas abu vulkanik dan hampir tidak berbatu. Kondisi tersebut membuat material bawah tanah lebih mudah terkikis, terutama saat curah hujan tinggi dan dipengaruhi aktivitas gempa," tulis Satgas PRR dikutip dari siaran pers, Senin, (15/6/2026).

Di kawasan Tajuk Enang-Enang, khususnya pada jalur Simpang Lancang, Desa Alur Cuncin-Desa Menderak, Kecamatan Pintu Rime, akses masyarakat sempat terputus total. Jalur vital Jalan Raya Bireuen-Takengon ini merupakan urat nadi penting bagi mobilitas masyarakat Gayo dan pesisir utara Aceh, termasuk distribusi hasil pertanian.

Masyarakat setempat telah melakukan upaya swadaya untuk membuka kembali akses agar kendaraan bisa melintas secara terbatas. Namun, BPJN Aceh mengingatkan bahwa jalur darurat tersebut masih menyimpan risiko tinggi karena kondisi tanah yang labil, medan yang curam, penerangan yang minim, serta kerusakan serius pada jembatan eksisting, termasuk fondasi yang miring dan patah.

Satgas PRR menekankan perlunya penanganan di Enang-Enang dengan pendekatan kehati-hatian yang didasarkan pada kajian teknis dan geologi mendalam. Untuk solusi jangka panjang, telah disiapkan rencana pembangunan jembatan shortcut yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada tahun 2027 mendatang.

Perhatian serupa difokuskan pada fenomena sinkhole di Kampung Pondok Balek, di mana lubang amblas tersebut diperkirakan memiliki kedalaman mencapai 85 meter dengan luasan sekitar 3 hektare berdasarkan informasi sementara BPJN. Fenomena ini telah mengakibatkan rusaknya lahan pertanian, terputusnya akses jalan, dan ambruknya satu tower listrik di lokasi tersebut.