bogorplus.id – Indonesia mengalami sebuah tragedi kemanusiaan yang mencoreng lembaran sejarahnya, yaitu Kerusuhan Mei 1998 dan Tragedi Trisakti. Peristiwa ini menyisakan luka yang dalam bagi bangsa, meninggalkan ingatan yang pahit mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), rasisme, serta kekerasan.

Kerusuhan Mei 1998, yang merupakan bagian dari sebuah perubahan besar, mencatat sejumlah pelanggaran HAM yang sangat menyedihkan. Dari tanggal 13 hingga 15 Mei 1998, suasana kerusuhan melanda berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta dan Solo, mengguncang struktur masyarakat.

Krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998 menjadi pemicu keresahan dan ketidakpuasan di kalangan rakyat. Ditengah ketegangan itu, aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti yang berlangsung pada 12 Mei 1998 menuntut adanya perubahan dan reformasi.

Empat mahasiswa Universitas Trisakti kehilangan nyawa akibat tembakan dalam aksi unjuk rasa yang awalnya damai. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.

13 Mei 1998

Kerusuhan mulai merebak pada 13 Mei 1998, sehari setelah insiden di Trisakti yang merenggut nyawa empat mahasiswa Universitas Trisakti. Kemarahan masyarakat terhadap rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun serta krisis moneter yang melumpuhkan perekonomian, memuncak dalam demonstrasi di berbagai daerah.

Di Jakarta, aksi berkabung di depan Universitas Trisakti dihalangi oleh aparat keamanan, yang menyebabkan kemarahan massa. Truk sampah di perempatan jalan layang Grogol dibakar, rambu-rambu dicabut, dan pagar pembatas jalan dirusak, bahkan gedung dan kendaraan di area parkir Mal Ciputra menjadi sasaran kerusakan.

14 Mei 1998

Situasi di Jakarta semakin memanas pada 14 Mei 1998. Kerusuhan mulai menargetkan etnis Tionghoa, ditandai dengan tindakan penjarahan, pembakaran toko dan rumah, serta pelecehan seksual. Kebencian dan sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa yang sudah lama terpendam, terpicu oleh tuduhan tidak berdasar yang menyatakan bahwa mereka adalah penyebab krisis moneter.