BOGORPLUS.ID - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) mengungkapkan bahwa Lanskap Keraitan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) merupakan zona paling rawan terjadinya konflik antara manusia dan orang utan di wilayah tersebut. Data yang dirilis oleh BKSDA Kaltim menunjukkan konsentrasi interaksi negatif yang tinggi di kawasan ini.

Hampir 70 persen total kasus interaksi negatif antara manusia dan orang utan di seluruh Kaltim tercatat terjadi di dalam Lanskap Keraitan. Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menyampaikan bahwa luas wilayah Keraitan ini mencakup sekitar 560 ribu hektare.

Lanskap Keraitan ini merupakan bagian dari sub lanskap yang lebih besar, yaitu Lanskap Kutai, yang secara keseluruhan memiliki luas sekitar 4,2 juta hektare. Lanskap Kutai ini membentang dari Sungai Mahakam hingga Sungai Kelay di Berau dan menjadi habitat utama bagi spesies Orangutan Pongo pygmaeus morio atau Morio di Kaltim.

"Di dalamnya [Lanskap Kutai] terdapat delapan sub lanskap dan salah satunya Keraitan. Tapi kawasan tersebut tidak hanya berupa hutan. Di dalamnya terdapat area pertambangan, perkebunan sawit, HTI, HPH hingga permukiman warga," ujar M Ari Wibawanto pada Minggu (14/6/2026).

Aktivitas pemanfaatan lahan yang beragam tersebut menyebabkan habitat orang utan menjadi semakin terfragmentasi, sehingga satwa dilindungi ini semakin sering ditemukan di luar zona habitat alaminya. Fragmentasi ini memaksa orang utan mencari sumber daya di area yang telah dihuni manusia.

"Dari beberapa konflik yang terjadi, data kami hampir sampai 70 persen berada di Lanskap Keraitan," kata M Ari Wibawanto mengenai tingginya angka konflik di wilayah tersebut.

Kondisi keterancaman ini juga dilihat dari perspektif nasional, di mana Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, menyoroti bahwa mayoritas populasi orang utan berada di luar kawasan konservasi formal.

"Sebanyak 24 persen habitat orang utan berada di kawasan yang dilindungi, sedangkan 76 persen lainnya berada di luar kawasan dilindungi, fakta itu menjadi peringatan bahwa masa depan konservasi tidak bisa hanya bergantung pada taman nasional, cagar alam maupun kawasan konservasi pemerintah," terang Paulinus Kristanto.

Paulinus menambahkan bahwa terputusnya ekosistem hutan akibat fragmentasi menjadi akar masalah utama meningkatnya perselisihan antara manusia dan satwa liar. Isolasi populasi ini menyebabkan orang utan kesulitan dalam mencari makan dan bergerak secara alami.