bogorplus.id - Intoleransi laktosa merupakan kondisi medis yang terjadi akibat ketidakmampuan tubuh dalam mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terkandung di dalam susu. Kondisi ini dipicu oleh kurangnya produksi enzim laktase dalam sistem pencernaan. Akibatnya, laktosa yang tidak tercerna akan menumpuk dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada bayi.

Meskipun tergolong jarang terjadi, intoleransi laktosa pada bayi umumnya bersifat genetik atau diturunkan dari orang tua. Selain faktor keturunan, bayi yang lahir prematur atau menderita penyakit celiac juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.

Gejala intoleransi laktosa biasanya mulai muncul dalam kurun waktu 30 menit hingga 2 jam setelah bayi mengonsumsi susu formula, ASI dari ibu yang mengonsumsi produk susu, atau Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang mengandung unsur susu sapi. Berikut adalah lima gejala utama yang perlu diwaspadai:

1. Diare dengan Aroma Asam
Diare adalah gejala yang paling umum ditemukan. Berbeda dengan diare akibat infeksi, tinja bayi yang mengalami intoleransi laktosa cenderung berbau asam dan menyebabkan kemerahan atau iritasi di sekitar anus. Hal ini terjadi karena proses fermentasi laktosa oleh bakteri di usus besar yang menarik lebih banyak air. Orang tua perlu waspada terhadap risiko dehidrasi jika diare berlangsung terus-menerus.

2. Muntah dan Mual
Fermentasi laktosa menghasilkan gas berlebih yang memicu rasa mual hingga muntah. Namun, orang tua harus jeli membedakan antara intoleransi dan alergi. Jika muntah disertai ruam kulit atau pembengkakan pada wajah, kemungkinan besar bayi mengalami alergi protein susu sapi yang memerlukan penanganan berbeda.

3. Perut Kembung
Gas hasil fermentasi juga menyebabkan perut bayi menjadi kembung. Kondisi ini membuat bayi merasa tidak nyaman, yang ditandai dengan sikap rewel, sering menangis, sering buang angin, hingga gerakan melengkungkan punggung atau mengangkat kaki ke arah perut.

4. Nyeri Perut yang Hebat
Lantaran belum bisa berkomunikasi secara verbal, bayi yang mengalami sakit perut akan menunjukkan ekspresi wajah kesakitan, seperti meringis atau menutup mata rapat-rapat. Bayi juga biasanya akan menangis lebih kencang, sulit tidur, dan enggan untuk menyusu.

5. Gangguan Pertumbuhan Berat Badan
Dampak jangka panjang dari intoleransi laktosa yang tidak tertangani adalah terganggunya penyerapan nutrisi. Jika kondisi ini dibiarkan, berat badan bayi terancam tidak mengalami kenaikan yang signifikan sesuai dengan grafik usianya, yang berisiko menghambat pertumbuhan optimal.

Mengingat gejala-gejala tersebut menyerupai masalah kesehatan lainnya, pemeriksaan medis secara profesional sangat disarankan. Jika bayi menunjukkan satu atau lebih gejala di atas, orang tua diimbau segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penyesuaian pola makan bebas laktosa yang tepat.