bogorplus.id - Dunia kerja profesional menuntut setiap individu untuk memiliki mentalitas yang kuat. Dalam lingkungan kerja, seseorang akan berinteraksi dengan berbagai karakter rekan kerja, mulai dari yang sangat tegas hingga perfeksionis. Tidak jarang, dinamika ini melibatkan pemberian kritik atau umpan balik (feedback) negatif, baik terkait kinerja maupun kepribadian.

Namun, respons seseorang dalam menerima kritik sangat dipengaruhi oleh karakter dan kepribadian masing-masing. Terdapat beberapa sikap tertentu yang justru membuat kritik dipandang sebagai ancaman, sehingga menghambat proses pertumbuhan karier.

Berikut adalah empat sikap yang perlu diwaspadai karena dapat membuat seseorang sulit menerima kritik dan masukan secara objektif:

1. Kurangnya Pemahaman Terhadap Diri Sendiri
Memahami kekuatan, kelemahan, serta bakat pribadi merupakan fondasi penting dalam dunia kerja. Tanpa pengenalan diri yang mendalam, seseorang akan cenderung merasa "diserang" secara personal saat menerima pendapat orang lain.

Alih-alih menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi, individu yang kurang mengenal dirinya akan merasa patah semangat karena terlalu menggantungkan validasi pada ucapan orang lain. Sebaliknya, pandangan diri yang sehat akan membantu seseorang tetap stabil meski menerima masukan yang tajam.

2. Rendahnya Rasa Belas Kasih pada Diri Sendiri (Self-Compassion)
Sikap terlalu menuntut kesempurnaan pada diri sendiri dapat menjadi bumerang. Setiap pekerja perlu menyadari bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Tanpa adanya self-compassion, seseorang akan merasa gagal sepenuhnya saat dikritik.

Fokus utama seharusnya dialihkan dari sekadar menyenangkan orang lain menjadi pemberian kesempatan bagi diri sendiri untuk terus berkembang melalui evaluasi yang ada.

3. Ketidakmampuan Mengelola Emosi
Profesionalisme sangat berkaitan erat dengan kematangan emosional. Kritik yang disampaikan dengan nada keras sering kali memicu rasa malu, bersalah, hingga kemarahan.

Jika perasaan tersebut dibiarkan mendominasi, fokus kerja akan terganggu oleh keinginan untuk diakui secara emosional daripada memperbaiki performa. Ketidakmampuan mengendalikan perasaan dapat membuat seseorang dinilai tidak konsisten dan kurang tegas dalam bekerja.