BOGORPLUS.ID - Sebuah kondisi darurat infrastruktur terjadi di wilayah perbatasan Apokayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, di mana akses jalan utama mengalami kerusakan yang sangat parah. Kerusakan ini menyebabkan antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat terperosok dalam kubangan lumpur tebal.
Insiden ini menjadi sorotan publik setelah sebuah rekaman video yang menunjukkan kesulitan warga beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat rombongan kontingen Konferensi Wilayah (Konwil) IV Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Kaltara terpaksa menghentikan perjalanan mereka.
Para pengendara dan penumpang rombongan tersebut dilaporkan kehabisan bahan makanan karena terpaksa menunggu berhari-hari lamanya. Mereka harus menunggu air surut untuk bisa melanjutkan perjalanan melintasi titik-titik kerusakan berat di jalur tersebut.
Seorang pria dalam rekaman video tersebut mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap kondisi jalan yang tidak kunjung membaik. "Perusahaan Indon kuat tipu lah. Tengoklah anak-anak di sini sudah menangis dan menahan lapar karena seharian menunggu surutnya air. Perusahaan Indon bikin tipu-tipu masyarakat saja. Indon bikin jalan ini tidak pandai Ho, semua kendaraan nyangkut dan tidak bisa lewat," ucap pria tersebut dengan logat Melayu yang kental, sebagaimana dikutip dari Detikcom.
Kondisi terparah dilaporkan terjadi di area yang dikenal sebagai Jembatan 35, di mana jalanan berubah total menjadi kubangan lumpur. Pria yang sama juga menyuarakan keprihatinan atas keberadaan alat berat yang dinilai tidak memberikan dampak perbaikan signifikan.
"Tidak ada guna alat berat itu, tarik kembali saja karena tidak ada juga yang dibuat atau yang berdampak pada jalan. Ini Jembatan 35 harus dibuat, percuma jika alat berat itu berfungsi untuk menyapu pasir saja," tambahnya dengan nada kesal, seperti dilansir dari Detikcom.
Menanggapi situasi kritis ini, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Kayan Hulu sekaligus Kepala Badan Perbatasan Kabupaten Malinau (Kaban), Setim Ala, membenarkan adanya rombongan warga yang terjebak di jalur tersebut. Ia menjelaskan bahwa jalan yang digunakan adalah jalan trans nasional yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
"Jalan yang masyarakat lalui selama ini sebenarnya adalah jalan trans nasional yang merupakan tanggung jawab penuh pemerintah pusat. Pemerintah Kabupaten Malinau sudah berupaya memperbaiki semampunya menggunakan alat dari kecamatan," jelas Setim Ala kepada detikKalimantan pada Rabu (24/6/2026).
Setim Ala kemudian mengklarifikasi mengenai alat berat yang berada di lokasi, yang ternyata merupakan bantuan dari Pemkab Malinau. Alat tersebut awalnya dialokasikan untuk peruntukan lain, bukan penanganan jalan nasional.






.png)