Oleh : Ikhsan Harris Fadillah

bogorplus.id- Sebagai Mahasiswa, kita menyaksikan paradoks di tahun pertama rezim Prabowo-Gibran, ketimpangan kian nyata, namun perlawanan radikal justru surut.

Mengapa “Agen Perubahan” tampak pasif? Artikel ini membongkar bahwa musuh utamanya bukanlah represi fisik semata, melainkan Hegemoni yang meresap.

Narasi “stabilitas” dan “keberlanjutan” yang didengungkan media dan kampus (alat sosialisasi) telah berhasil menciptakan “kesadaran palsu”.

Kita sibuk dalam diskursus elitis, sementara massa tertindas yang seharusnya kita damping masih menerima status quo sebagai takdir yang wajar, persis seperti yang dianalisis dalam artikel saya ini.

Ketimpangan sosial dan ekonomi tampak nyata dalam hampir setiap aspek kehidupan modern.

Namun, meskipun kondisi ini merugikan banyak orang, jarang sekali kita melihat perlawanan yang sistematis dan berkelanjutan dari mereka yang paling tertindas.

Mengapa hal ini terjadi? Jika ketimpangan begitu mencolok, mengapa mereka yang dirugikan tampak pasif? Jawabannya tidak hanya terletak pada kemiskinan itu sendiri, tetapi lebih pada kesadaran yang telah dibentuk oleh ideologi dan hegemoni kekuasaan.

Kita mulai dari kacamata Antonio Gramsci, seorang pemikir Marxis, mengenalkan konsep hegemoni budaya, yang menjelaskan bagaimana kelas penguasa tidak hanya mengendalikan masyarakat melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui kendali atas kesadaran dan nilai-nilai.