bogorplus.id – Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi perhatian media internasional dalam beberapa hari terakhir. Ini bermula dari wacana yang mewajibkan vasektomi untuk mereka yang menerima bantuan sosial (bansos).

Usulan ini muncul setelah pernyataan Dedi pada akhir April kemarin. Saat itu, Dedi diwartakan mengusulkan agar suami menjadi syarat vasektomi bagi penerima bantuan sosial.

“Jangan membebani reproduksi hanya pada perempuan. Perempuan jangan menanggung beban reproduksi. Harus laki-laki,” ucap Dedi di Bandung, Senin (28/4/2025), sebagaimana dikutip Antara.

Sejak saat itu, wacana ini terus dibicarakan dan menjadi topik hangat di media sosial. Usulan tersebut juga memicu diskusi yang cukup sengit.

Tidak hanya di Indonesia, Dedi Mulyadi juga menjadi sorotan media asing terkait topik ini. Channel News Asia menerbitkan laporan berjudul “Innovative od Dangerous? Indonesia’s Local Leaders Raise Eyebrows with Vasectomy for Aid and Other Schemes” yang mengeksplorasi berbagai kebijakan kontroversial dari Dedi Mulyadi, termasuk mengirim anak-anak nakal ke barak militer dan saran vasektomi untuk penerima bantuan sosial.

“Rencananya vasektomi syarat penerima bansos itu menuai beragam reaksi dari masyarakat, tokoh Islam, dan menteri. Sebagian menyebutnya diskriminatif, sementara sebagian lain mengatakan itu sebagai pelanggaran otonomi seseorang,” lapor CNA.

CNA juga menyoroti beberapa pemimpin daerah di Indonesia yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru dalam 100 hari pertama mereka menjabat. Diantaranya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang berencana mengalokasikan sebuah pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu khusus bagi kucing.

“Hal ini membuat kebijakan kontroversial karena mereka ingin meyakinkan orang bahwa mereka mampu dan meningkatkan popularitas mereka, terutama jika mereka ingin mencalonkan kembali pada tahun 2029,” kata CNA.

Pandangan serupa disampaikan oleh The Telegraph. Media Inggris ini menyoroti wacana syarat vasektomi bagi penerima bantuan sosial.