BOGORPLUS.ID - Warga Desa Penaruban, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, menggelar aksi unjuk rasa di balai desa setempat pada Rabu (24/6/2026) siang. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap proyek pembangunan dry port atau terminal peti kemas yang diduga merusak area persawahan warga.
Protes warga dipicu oleh kerusakan pada saluran pembuangan air akibat aktivitas pengurukan proyek tersebut. Kerusakan ini mengakibatkan beberapa hektare sawah warga tergenang air dan menjadi tidak dapat diolah untuk kegiatan pertanian.
Massa membawa sejumlah spanduk berisi tuntutan dan mendesak Kepala Desa Penaruban segera menyampaikan aspirasi mereka kepada pihak pengelola proyek. Mereka menuntut agar pembangunan dihentikan sementara demi mencegah kerusakan lahan pertanian yang lebih parah.
"Kami minta Pak Kades keluar dari kantor dan temui kami kalau masih menganggap kami sebagai warga anda," seru salah satu peserta demo pada Rabu (24/6/2026) tersebut.
Kepala Desa Penaruban, Agus Waluyo, akhirnya menemui para pendemo dan memberikan keterangan mengenai posisi pemerintah desa dalam persoalan ini. Ia membenarkan bahwa aspirasi warga terdampak telah disampaikan kepada pihak kontraktor dan Jababeka.
"Aspirasi warga terdampak sudah pernah saya sampaikan kepada pihak kontraktor dan Jababeka. Untuk lebih jauhnya, saya tidak berani ikut campur terlalu dalam terkait proyek tersebut," kata Agus Waluyo kepada para pendemo.
Agus Waluyo juga mengungkapkan bahwa dampak pengurukan tidak hanya merugikan lahan warga, tetapi juga lahan bengkok milik desa yang berstatus sebagai lahan hijau produktif. "Bengkok saya ini juga kena dampaknya, ikut diuruk. Kan bengkok desa itu masih produktif dan lahan hijau, harusnya tidak boleh," jelasnya.
Pihak pemerintah desa mengklaim tidak menerima pemberitahuan resmi mengenai pengurukan lahan bengkok dan sempat menghentikan operasionalnya pada Sabtu (20/6) lalu karena belum ada kejelasan status. "Pihak kontraktor belum izin saya untuk menguruk itu, saya juga tidak tahu kalau bengkok saya ikut diuruk," sambungnya.
Kristihadi, perwakilan warga dari Dusun Tegalrejo, menekankan bahwa persoalan utama adalah tertutupnya sistem irigasi utama, yang menyebabkan sawah tergenang dan tidak bisa diolah. "Ada beberapa hektare sawah milik warga di sini yang terkena dampak proyek dry port. Sawah jadi tidak bisa diolah karena banjir akibat saluran pembuangan air diuruk," kata Kristihadi kepada detikjateng.






.png)