bogorplus.id – Mungkin banyak orang di Indonesia yang sudah akrab dengan makanan pedas. Ada yang bahkan menyatakan tidak mau menikmati makanan jika tidak pedas. Ternyata, bagi para penyuka, makanan pedas memang sangat adiktif.
Namun, apakah pedas itu benar-benar ada? Atau hanya ilusi yang ditimbulkan oleh pikiran kita? Pada dasarnya, penelitian mengenai rasa pedas berkaitan erat dengan bagaimana otak merespons sensasi pedas tersebut.
Pedas merupakan rasa yang dihasilkan oleh senyawa alami, yang menciptakan sensasi panas ketika memakan cabai. Makanan dengan rasa pedas biasanya memiliki kandungan cabai yang cukup tinggi.
Banyak orang berpikir bahwa pedas berasal dari biji cabai. Namun, kenyataannya, rasa pedas ini disebabkan oleh zat bernama capsaicin.
Capsaicin adalah senyawa yang menghasilkan sensasi pedas dan panas ketika bersentuhan dengan mulut atau bagian tubuh yang lain. Zat ini terkandung dalam plasenta cabai.
Sensasi pedas yang muncul membawa berbagai manfaat, seperti meningkatkan detak jantung dan fungsi saraf, serta membantu mengatur aliran darah dalam tubuh (Prainata, 1999).
Sebenarnya, capsaicin tidak menghasilkan rasa pedas, melainkan sensasi panas atau terbakar di mulut dan lidah. Hal ini karena lidah manusia tidak memiliki reseptor yang khusus untuk mendeteksi rasa pedas.
Lidah hanya dibekali empat jenis reseptor untuk merasakan, yaitu manis, pahit, asam, dan asin. Jadi, pedas bukanlah rasa yang ada, melainkan sekadar sensasi terbakar dan panas.