BOGORPLUS.ID - Asosiasi Hotel Mataram (AHM) menyatakan keprihatinan mendalam atas beredarnya video promosi yang dinilai vulgar dari sejumlah hotel melati di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), melalui platform TikTok baru-baru ini. Strategi pemasaran yang tidak etis ini menjadi sorotan tajam karena dianggap melanggar norma kesusilaan yang berlaku di masyarakat.
Insiden ini berawal ketika puluhan video pemasaran tersebar luas di TikTok, menampilkan beberapa penginapan di Jalan Pejanggik yang menawarkan tarif kamar seharga Rp 170 ribu. Konten tersebut menggunakan narasi yang menjamin keamanan dari razia serta diksi yang mengarah pada aktivitas seksual bebas.
Ketua AHM Mataram, Made Adiyasa, memberikan respons tegas terhadap konten digital yang dinilai telah melewati batas kewajaran dalam bisnis perhotelan tersebut pada hari Minggu, 7 Juni 2026. AHM menilai cara promosi tersebut sangat merugikan industri pariwisata secara keseluruhan di wilayah tersebut.
"Sebagai organisasi yang menaungi perkumpulan hotel, ya sayang banget cara promosinya. Menurut kita sudah kebablasan. Kenapa tidak promosi yang lebih santun, lebih bijaklah," ungkap Made Adiyasa, Ketua AHM Mataram, mengenai promosi yang viral tersebut.
Menyikapi kegaduhan ini, pihak AHM segera mengambil langkah klarifikasi mengenai afiliasi manajemen penginapan yang terlibat dalam pembuatan konten promosi tersebut kepada publik. Langkah ini penting untuk membedakan mana pelaku usaha yang berada di bawah naungan asosiasi dan mana yang tidak.
"Bukan anggota AHM," tegas Made Adiyasa, Ketua AHM Mataram, untuk menegaskan bahwa hotel-hotel yang mempromosikan diri secara vulgar tersebut tidak terafiliasi dengan organisasi mereka. Penegasan ini dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin timbul.
Kekhawatiran utama AHM adalah potensi penurunan minat wisatawan domestik menjelang musim liburan pertengahan tahun akibat sentimen negatif yang ditimbulkan oleh promosi tidak bermoral tersebut. Hal ini dikhawatirkan akan merusak citra Mataram sebagai destinasi wisata yang ramah untuk semua kalangan.
"Tidak semua orang tujuannya masuk ke hotel itu disamaratakan. Jadi itu yang kami khawatirkan, ini adalah promosi negatif untuk kota kita," jelas Made Adiyasa, Ketua AHM Mataram, mengenai dampak disinformasi tersebut. Dilansir dari Detik Travel, AHM berupaya keras menjaga iklim pariwisata yang sehat.
Sebagai langkah antisipatif ke depan, AHM mengimbau seluruh pelaku usaha perhotelan di Mataram untuk selalu mengedepankan etika pariwisata yang baik. Hal ini merupakan upaya kolektif untuk memastikan bisnis perhotelan berjalan secara sehat dan aman di bawah tata krama yang berlaku.






.png)