bogorplus.id - Kehilangan gigi geraham sering kali memicu kekhawatiran, terutama terkait terganggunya fungsi pengunyahan. Banyak orang berharap gigi ini dapat tumbuh kembali layaknya gigi susu pada masa kanak-kanak. Namun, secara medis, pertumbuhan gigi manusia memiliki batasan fase yang sangat spesifik.

Pakar kesehatan menjelaskan bahwa manusia hanya mengalami dua fase pertumbuhan gigi sepanjang hidupnya, yaitu fase gigi susu dan fase gigi tetap. Setelah seseorang mencapai usia dewasa dan gigi tetapnya telah tumbuh sempurna, tubuh tidak lagi memiliki mekanisme alami untuk menumbuhkan gigi baru. Hal ini berlaku untuk seluruh jenis gigi, termasuk gigi geraham yang hilang akibat pencabutan maupun masalah kesehatan mulut.

Sering terjadi kesalahpahaman terkait gigi geraham bungsu yang biasanya muncul pada rentang usia 17 hingga 25 tahun. Sebagian orang menganggap kemunculan gigi ini sebagai bukti bahwa gigi geraham bisa tumbuh kembali. Faktanya, gigi bungsu adalah bagian dari set gigi tetap yang memang terjadwal tumbuh paling akhir, bukan merupakan pengganti dari gigi geraham yang sebelumnya telah tanggal.

Bagi individu yang telah kehilangan gigi geraham, dunia kedokteran gigi menawarkan beberapa solusi medis untuk mengembalikan fungsi kunyah dan estetika mulut:

1. Implan Gigi: Merupakan prosedur menanamkan akar buatan berbahan titanium ke dalam tulang rahang. Metode ini dianggap sebagai solusi paling stabil karena materialnya dapat menyatu dengan tulang secara permanen.
2. Gigi Tiruan Lepasan: Terbuat dari bahan akrilik atau campuran khusus, opsi ini lebih fleksibel karena dapat dilepas dan dipasang kembali oleh pengguna sesuai kebutuhan.
3. Gigi Tiruan Jembatan (Bridge): Prosedur ini menggunakan gigi di sebelah celah yang kosong sebagai penyangga untuk memasang gigi buatan secara permanen.

Meski teknologi medis telah maju, langkah pencegahan tetap menjadi solusi terbaik. Para ahli menyarankan masyarakat untuk konsisten menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi dua kali sehari, membersihkan sela-sela gigi, serta melakukan kontrol rutin ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali. Hal ini penting dilakukan guna mencegah kerusakan gigi parah yang berujung pada pencabutan.