BOGORPLUS.ID - Distribusi kendaraan listrik BYD Atto 1 mengalami penurunan signifikan pada Mei 2026, hanya tercatat sebanyak 28 unit yang dikirim dari pabrik ke dealer (wholesales). Fenomena ini menjadi sorotan setelah mobil yang sama mendominasi pasar sepanjang tahun 2025.
Pada tahun sebelumnya, mobil listrik berkapasitas lima penumpang ini berhasil mencatatkan prestasi luar biasa dengan total distribusi mencapai 22.582 unit sepanjang tahun 2025. Pencapaian tersebut menjadikannya raja mobil listrik di Indonesia selama periode tersebut.
Namun, tren positif tersebut mulai berbalik arah pada lima bulan pertama tahun 2026, di mana akumulasi wholesales Atto 1 hanya mencapai 7.867 unit. Penurunan volume pengiriman mulai terlihat sejak Maret dengan 672 unit, lalu menyusut menjadi 108 unit pada April, sebelum mencapai titik terendah pada Mei 2026.
Penurunan tajam ini kontras dengan pengiriman bulanan sebelumnya yang konsisten melampaui angka 1.000 unit, sebelum akhirnya anjlok drastis di kuartal kedua tahun 2026. Dilansir dari Detik Oto, penurunan ini dikaitkan dengan upaya penyesuaian stok di pasar oleh prinsipal.
Penyebab utama anjloknya distribusi ini adalah langkah strategis perusahaan dalam mengoptimalkan operasional pabrik perakitan lokal di Subang, Jawa Barat. Produsen kini memasuki fase kewajiban untuk merealisasikan komitmen investasi dengan memproduksi unit secara lokal (CKD) setelah sebelumnya mengandalkan impor besar-besaran (CBU) tahun lalu.
Volume pengiriman yang tercatat rendah pada April dan Mei 2026 diduga kuat merupakan sisa dari pembersihan stok inventori pengapalan akhir tahun 2025. Selain itu, hal ini juga merupakan bagian dari strategi penyesuaian internal manajemen menjelang produksi lokal dimulai.
Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengonfirmasi bahwa penurunan signifikan ini merupakan dampak dari proses transisi menuju produksi dalam negeri. "Ya memang itu dampak dari transisi itu, mungkin itu bisa dibaca kenapa bisa ada shock, pengurangan yang cukup signifikan tersebut," ujar Luther Panjaitan di Hutan Kota by Plataran, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026).
Fasilitas manufaktur BYD yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun. Pabrik ini menjadi kunci pemenuhan janji perusahaan untuk memproduksi kendaraan listrik secara lokal di Indonesia.
Beberapa unit kendaraan yang telah keluar dari fasilitas perakitan tersebut dilaporkan sudah mulai dialokasikan untuk keperluan uji coba oleh konsumen. "Dan seperti kalian lihat ada beberapa kendaraan yang digunakan test drive sudah menggunakan kendaraan yang diproduksi di fasilitas tersebut," jelas Luther Panjaitan.






.png)