bogorplus.id — Tradisi Adu Bincurang khas Kampung Cimande, Kabupaten Bogor, masih terus bertahan di tengah gempuran budaya modern dan media sosial.
Tradisi adu ketahanan tulang kering itu kini tidak hanya dianggap permainan adu fisik, tetapi juga bagian dari warisan budaya dan ajang silaturahmi antar generasi muda.
Sesepuh Cimande, Didih Supriadi atau biasa dipanggil Aki Didih mengatakan, Adu Bincurang merupakan tradisi lama masyarakat Cimande yang lahir dari budaya pencak silat.
“Dulu itu cerdasnya orang tua kita untuk menyatukan generasi muda dan jadi forum silaturahmi kayak Adu Bincurang” ujar Aki Didih kepada Bogorplus.id, Senin (18/5/2026).
Dalam tradisi tersebut, peserta saling mengadu tulang kering dengan aturan khusus. Tendangan hanya diperbolehkan dari lutut ke bawah hingga mata kaki.
Sebelum turun ke arena, peserta juga wajib menjaga adab dengan mengenakan peci, kain, hingga pakaian khas pencak.
Meski dikenal keras dan kerap menyebabkan cedera hingga patah tulang, tradisi itu disebut tidak pernah berujung permusuhan.
“Kalau ada yang cedera, ya diurus bersama, tidak pernah sampai ke meja hijau,” katanya.
Ki Didih menilai perubahan zaman membuat sebagian generasi muda mulai meninggalkan nilai budaya dalam tradisi tersebut.

