BOGORPLUS.ID - Kondisi lingkungan di Kabupaten Serang, Banten, dilaporkan memprihatinkan menyusul dugaan pencemaran yang melanda aliran Sungai Ciujung. Perubahan drastis terlihat pada kualitas air sungai yang kini berubah menjadi hitam pekat disertai munculnya aroma yang sangat tidak sedap.
Peristiwa ini terpantau jelas di wilayah Kampung Jongjing, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, sejak beberapa hari terakhir. Selain perubahan warna yang signifikan, pantauan menunjukkan adanya lapisan minyak yang mengapung di permukaan air sungai tersebut.
Fenomena pencemaran ini telah berlangsung selama kurang lebih lima hari terakhir, menurut kesaksian warga setempat. Bau menyengat yang dihasilkan dari air sungai tersebut dilaporkan tercium kuat hingga mencapai area tepi sungai.
Salah seorang warga bernama Wiwi mengungkapkan dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat sekitar akibat kondisi air yang tercemar tersebut. Ia merasa sangat terganggu dengan aroma tidak sedap yang terus menerus tercium dari aliran sungai yang melintas di dekat pemukiman mereka.
"Sudah lima hari sekarang. Baunya menyengat," kata Wiwi, menggarisbawahi lamanya dampak pencemaran dirasakan warga.
Wiwi juga menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai potensi kerusakan pada sektor pertanian jika air yang tercemar ini tetap digunakan. Ia khawatir jika air tersebut dipaksakan untuk mengairi sawah, tanaman padi akan mengalami gagal panen atau bahkan mati.
"Terus kalau mau diesel ini (disedot) kan nggak bisa. Kalau air kayak begini, keruh kan. Nggak bisa kalau dibuat sawah, kan nggak bisa untuk padi, Pak. Bisa-bisa mati padinya," ucap Wiwi, menjelaskan kerisauan petani.
Lebih lanjut, Wiwi mengungkapkan bahwa masalah pencemaran Sungai Ciujung ini bukanlah kejadian yang baru pertama kalinya terjadi. Ia menyebutkan bahwa fenomena air menghitam dan berbau ini sudah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun sebelumnya, diperkirakan setiap dua tahun sekali.
"Saya lihat sudah tiga kali ini, tiap dua tahun sekali. Saya kurang tahu kenapa ini, katanya limbah," ujar Wiwi, menduga penyebabnya berasal dari pembuangan limbah.






.png)