BOGORPLUS.ID - Puluhan kepala keluarga (KK) yang sebelumnya bermukim di Pedukuhan Sari, Kalurahan Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, kini telah meninggalkan kediaman mereka. Fenomena perpindahan massal ini menyebabkan kawasan pemukiman tersebut perlahan menghilang dari peta administratif dan kini tampak sepi.

Perpindahan penduduk ini diketahui telah berlangsung secara bertahap sejak era tahun 1990-an dan terus berlanjut hingga beberapa tahun lalu. Dampak dari eksodus warga ini membuat lahan bekas pemukiman tersebut kini beralih fungsi menjadi area perkebunan yang dikelola oleh pemilik aslinya.

Dilansir dari Detikcom pada Kamis (18/6/2026), mantan warga setempat yang besar di sana, Trifena Istini (56), memberikan keterangan mengenai kondisi pedukuhan tersebut di masa lalu. Ia mengungkapkan bahwa dulunya Pedukuhan Sari dihuni oleh sekitar 30 hingga 35 kepala keluarga.

"Penghuni di Pedukuhan Sari dulu 30 sampai 35 KK," ujar Trifena saat dijumpai di kediamannya di Padangan, Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, pada Kamis (18/6/2026).

Trifena menceritakan bahwa sebelum ditinggalkan, kehidupan sosial di Pedukuhan Sari berjalan layaknya dusun pada umumnya, lengkap dengan struktur organisasi seperti RT, RW, hingga kepala dusun. Ayahnya sendiri diketahui pernah menjabat sebagai Kepala Dukuh Sari sebelum purna tugas dan meninggal dunia.

Ia menegaskan bahwa tatanan sosial di sana pernah normal, "Kalau Pedukuhan Sari itu ya seperti umumnya Pedukuhan yang lain, saya tahu karena lahir dan tinggal di sana. Apalagi ayah saya Dukuh Sari, tapi sudah purna dan meninggal dunia," tuturnya kala itu.

Gelombang perpindahan penduduk secara sepihak ini mulai ramai terjadi pada tahun 1990-an, meskipun alasan pastinya tidak diketahui secara gamblang oleh masyarakat sekitar saat itu. Perpindahan terjadi satu per satu, dan ayah Trifena merupakan salah satu warga yang terakhir pindah.

"Pastinya kenapa saya tidak tahu, yang jelas pindah satu per satu dan salah satu yang terakhir pindah itu ayah saya," ucapnya.

Ketika Trifena sempat menanyakan alasan kepindahan kepada sang ayah semasa hidupnya, ia hanya mendapat jawaban yang singkat dan tidak mendetail mengenai alasan mendesak.