bogorplus.id - Tradisi walimatus safar menjadi pemandangan umum di Indonesia menjelang keberangkatan jemaah ke Tanah Suci. Acara syukuran ini biasanya dihadiri oleh keluarga, kerabat, sahabat, hingga tetangga sebagai momentum perpisahan sekaligus permohonan doa restu.

Secara etimologi, istilah walimatus safar berasal dari dua kata bahasa Arab. Merujuk pada buku Ensiklopedia Fikih Haji dan Umrah (Edisi Revisi) karya Agus Arifin, kata walimah (bentuk jamak: walaim) berasal dari kata awlam yang berarti pesta, kenduri, atau jamuan. Sementara itu, kata safar memiliki arti perjalanan.

Dalam konteks ibadah haji, walimatus safar dimaknai sebagai acara syukuran sekaligus berpamitan sebelum berangkat menunaikan rukun Islam kelima. Menariknya, istilah ini tidak ditemukan dalam literatur Islam klasik. Menurut catatan Agus Arifin, istilah tersebut baru muncul sekitar tahun 1970-an dan awalnya populer di wilayah perkotaan seperti Jakarta.

Senada dengan hal tersebut, Ahmad Sarwat dalam bukunya Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umrah menjelaskan bahwa meski istilahnya spesifik, secara esensi terdapat adab dan kesunnahan dalam melakukan safar secara umum. Hal ini mencakup seluruh aktivitas bepergian, tidak terbatas hanya pada perjalanan haji.

Hukum dan Esensi Walimatus Safar

Di beberapa kalangan, walimatus safar juga dikenal dengan istilah ratiban. Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, bersama Indriya R. Dani dalam buku 100+ Kesalahan dalam Haji & Umrah, menjelaskan bahwa inti dari kegiatan ini adalah pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, selawat, dan doa bersama agar jemaah diberikan keselamatan serta meraih predikat haji mabrur.

Mengenai hukum pelaksanaannya, para ahli mengategorikan kegiatan ini sebagai sunnah. Artinya, perbuatan ini mendatangkan pahala jika dikerjakan, namun tidak berdosa jika ditinggalkan. Dasar hukum ini bersandar pada hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat kepada kaum muslimin yang berkumpul di suatu majelis untuk membaca Al-Qur'an dan menuntut ilmu.

Lebih lanjut, Prof. Nasaruddin Umar menekankan bahwa walimatus safar merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT yang disyiarkan kepada orang lain. Namun, ia memberikan catatan penting terkait niat penyelenggaraannya.

"Yang penting, dalam mengadakan walimatus safar, jangan sampai ada niat menjadi riya atau ingin mendapat pujian manusia," tegas Nasaruddin.