bogorplus.id– Di tengah riuh klakson kendaraan yang mengular di Simpang Pomad, Kota Bogor, sebuah ruangan berkaca penuh tulisan tentang pengobatan alternatif tetap setia melayani pasien.
Di sanalah Hasyim (24) menghabiskan hari-harinya bukan di balik meja kantor bertingkat tinggi seperti yang ia bayangkan semasa kuliah, melainkan di ruang bekam sederhana milik keluarganya.
Setiap hari, dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, Hasyim melayani dua hingga tiga pasien yang datang silih berganti.
Sebagian besar mengeluhkan kolesterol, asam urat, hingga penyakit dalam. Tak sedikit pula yang sekadar datang karena tubuh lelah.
“Banyak juga yang datang cuma karena capek. Itu malah bagus, karena bekam kan mengambil darah kotor,” ujarnya, Sabtu (17/1).
Ruangan tempat ia bekerja tertutup tirai hijau. Di dalamnya, alat-alat kesehatan tersusun rapi dan bersih, menumbuhkan rasa percaya bagi pasien.
Meski berada di pinggir jalan padat kendaraan, suasana di dalam ruangan itu terasa kontras tenang di tengah kebisingan kota.
Hasyim bukan tanpa latar belakang pendidikan. Ia merupakan lulusan sarjana dengan IPK yang ia harapkan. Namun, realitas dunia kerja memaksanya mengubur mimpi menjadi pegawai kantoran dengan seragam rapi dan laptop terbaru.
“Kalau teman-teman saya pegang alat teknisi atau laptop, saya pegang alat bekam,” katanya.