bogorplus.id – Sebanyak 125 kepala keluarga (KK) atau 517 jiwa di Kampung Tonggoh, Desa Gunungsari, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, terdampak krisis air bersih akibat kekeringan yang telah berlangsung selama hampir 20 hari.
Warga terpaksa bertahan dengan memanfaatkan aliran Sungai Cipamingkis untuk mandi, mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, hingga mengambil air menggunakan jeriken untuk kebutuhan sehari-hari.
Ketua RT 04 Kampung Tonggoh, Makmur, mengatakan kekeringan membuat pasokan air ke permukiman warga terganggu. Bahkan, air yang sesekali mengalir kerap berbau lumpur.
"Sudah sekitar 20 hari. Air di rumah warga banyak yang tidak keluar, sekalinya keluar kadang berbau lumpur," ujar Makmur saat ditemui Bogorplus.id, Jum'at (19/6/2026).
Menurutnya, sejak musim kemarau tiba, warga hampir setiap hari mendatangi Sungai Cipamingkis, bahkan hingga tengah malam, untuk mengambil air.
Namun, kondisi sungai tersebut tidak layak dijadikan sumber air minum karena kerap tercemar limbah rumah tangga maupun aktivitas industri.
"Air sungai hanya bisa dipakai untuk mandi dan mencuci. Bahkan ada warga yang mengeluh gatal setelah mandi," ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang warga, Nur, mengaku kondisi serupa juga terjadi pada musim kemarau tahun lalu. Saat itu, warga mengalami kesulitan air bersih hingga berbulan-bulan.
"Tahun lalu kemarau sampai sekitar tujuh bulan. Kami kesulitan mendapatkan air bersih," ujar Nur.






.png)