bogorplus.id - Tradisi mengantar jemaah haji telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan religius masyarakat di Indonesia. Jauh dari sekadar seremoni pelepasan, tradisi ini mengandung esensi doa, harapan, serta dukungan moril agar para jemaah diberikan kelancaran dan keselamatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Secara historis, tradisi ini memiliki akar yang kuat sejak masa kolonial. Mengutip buku Perjalanan Religi Haji dan Umroh Pasca Pandemi Covid-19 karya Fuad Thohari, perjalanan haji masyarakat Nusantara dahulu merupakan perjuangan fisik yang berat. Dengan menempuh jalur darat dan laut selama berbulan-bulan, keberangkatan haji dipandang sebagai momen perpisahan yang krusial.

Dalam buku Berhaji di Masa Kolonial, M. Dien Madjid menjelaskan bahwa jemaah biasanya menyelenggarakan walimatus safar atau selamatan sebelum berangkat. Ritual ini menjadi ruang bagi calon jemaah untuk memohon maaf kepada keluarga, kerabat, dan tetangga. Mengingat risiko perjalanan yang tinggi pada masa itu mulai dari ancaman ombak besar, badai, hingga penyakit menular perpisahan di pelabuhan sering kali dianggap sebagai pertemuan terakhir.

Catatan sejarah menunjukkan betapa emosionalnya suasana pelepasan jemaah di masa lalu. Pada tahun 1897, dilaporkan bahwa warga satu desa turut mengantar calon jemaah ke stasiun dengan suasana penuh haru. Hal serupa terjadi di Pelabuhan Belawan, Medan, pada 1920. Isak tangis keluarga pecah saat kapal mulai menjauh dari dermaga, mengingat perjalanan tersebut bisa memakan waktu minimal enam bulan hingga bertahun-tahun.

Di berbagai daerah, tradisi ini memiliki sebutan dan karakteristik unik. Masyarakat Bali mengenal istilah Ninjo Haji, di mana jemaah diantar secara kolektif hingga ke Pelabuhan Gilimanuk. Sementara itu, masyarakat Bugis-Makassar telah memelihara tradisi mengantar jemaah ini secara turun-temurun hingga sekarang. Di Surabaya, Pelabuhan Tanjung Perak bahkan sempat dijuluki sebagai "Tanjung Tangis" karena menjadi saksi bisu perpisahan emosional para jemaah haji.

Seiring kemajuan teknologi transportasi, perjalanan haji kini menjadi jauh lebih cepat dan aman. Meskipun risiko fisik telah berkurang drastis dibandingkan masa kolonial, tradisi mengantar jemaah tetap lestari. Saat ini, esensi tradisi tersebut telah bertransformasi menjadi bentuk solidaritas sosial dan ungkapan syukur, di mana doa-doa terbaik tetap dipanjatkan agar jemaah dapat kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.