BOGORPLUS.ID - Fenomena menarik terjadi di Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, di mana masyarakat setempat kini lebih mengandalkan pasokan gas elpiji dari Malaysia, yakni produk Petronas. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung terhadap lonjakan harga gas elpiji subsidi 3 kg (melon) di tingkat pengecer daerah tersebut.
Keputusan beralih ke produk luar negeri ini sangat dipengaruhi oleh kesulitan akses distribusi produk dalam negeri menuju kawasan perbatasan yang terpencil. Warga di Desa Long Nawang dan Desa Nawang Baru menilai tabung gas dari negara tetangga menawarkan nilai ekonomis yang lebih baik, baik dari segi volume maupun total biaya yang dikeluarkan.
Dilansir dari Detikcom, harga jual gas melon di kawasan Apokayan bisa mencapai Rp 150.000 per tabung. Untuk mendapatkan volume gas yang setara dengan satu tabung 14 kg, warga harus membeli lima tabung gas melon, yang total biayanya mencapai Rp 750.000.
Sebagai perbandingan, tabung gas elpiji Petronas 14 kg dijual dengan kisaran harga Rp 550.000 per tabung saat ini. Meskipun harga produk Malaysia ini juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 500.000 akibat fluktuasi nilai tukar dolar, harganya tetap dinilai lebih kompetitif oleh konsumen.
Penyebab utama melonjaknya harga gas subsidi di wilayah ini adalah hambatan logistik yang ekstrem serta kondisi infrastruktur yang sangat memprihatinkan. Pasokan gas melon harus melalui perjalanan darat yang panjang dari Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Biaya logistik menjadi faktor signifikan karena harga gas di Long Bagun saja berkisar antara Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per tabung. Setelah itu, biaya angkut darat menuju Apokayan bertambah sekitar Rp 50.000 karena kondisi jalan Trans-Nasional yang dilaporkan rusak parah.
Pemerintah Kabupaten Malinau telah mengakui bahwa jangkauan distribusi elpiji bersubsidi belum sepenuhnya menjangkau wilayah terpencil seperti Apokayan. Pangkalan resmi yang dikelola oleh PT Naila dan PT Karyataman Nixon masih terpusat di area perkotaan Malinau.
Kabag Perekonomian dan SDA Setda Malinau, Erly Sumiati, membenarkan kondisi ini dengan menyatakan, "Di daerah Apokayan memang kita belum ada penyaluran elpiji ke sana. Makanya mereka menggunakan yang Malaysia punya."
Plt Camat Kayan Hulu, Setim Ala, menambahkan bahwa gas melon yang beredar di wilayahnya sejatinya tidak lagi mendapatkan subsidi harga. Ia menjelaskan bahwa harga yang dibayar masyarakat merupakan harga jual murni di tingkat dagang, bukan harga subsidi.






.png)