bogorplus.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi (Renkon) Banjir dan Gempa Bumi Kota Bogor Tahun 2026 di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Rabu (11/3/2026).

Kegiatan diikuti perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tersebut dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bogor, Eko Prabowo.

Menurut Eko, inisiasi BPBD Kota Bogor pada penyelenggaraan FGD penyusun dokumen renkon banjir dan gempa bumi merupakan Langkah tepat, penting, dang strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan bersama dalam menghadapi potensi bencana.

Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB), terdapat tiga bencana utama di Kota Bogor yang jadi prioritas penanganan, yaitu banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.

“Melalui kegiatan hari ini yang ditekankan adalah kesiapan skenario dalam menanggulangi bencana banjir dan gempa bumi dengan skala luas di Kota Bogor,” ujar Eko Prabowo.

Eko menjelaskan bahwa kondisi topografi Kota Bogor dengan curah hujan tinggi di Kawasan kaki gunung membuat wilayah ini rawan banjir dan longsor. Selain itu, kedekatannya dengan jalur sesar aktif juga meningkatkan potensi gempa bumi.

Eko menambahkan, penyusunan rencana kontingensi (renkon) merupakan amanat regulasi, mulai dari UU Nomor 24 tahun 2007 mengenai Penanggulangan Bencana hingga Permendagri Nomor 101 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal Sub-Urusan Bencana.

Menurut Eko, renkon bukan hanya dokumen administratif, namun bentuk komitmen pemerintah daerah dalam melindungi masyarakat di wilayah rawan bencana. 

Dalam FGD tersebut, Eko menekankan pentingnya bekerja dalam satu komando, memastikan validitas data, memperkuat keterpaduan dengan sektor swasta dan BUMD, serta menyusun skenario yang realistis dan operasional.